Notification

×

Iklan

Bitcoin Tertekan Imbas Anjloknya Emas dan Perak

Jumat, 10 Juli 2026 | 04:55 WIB Last Updated 2026-07-09T21:55:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com - Harga Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir mengalami tekanan yang tidak hanya berasal dari sentimen negatif di pasar aset kripto. 

Pelemahan harga emas dan perak akibat aksi jual investor juga ikut memengaruhi pergerakan Bitcoin, menandakan bahwa aset digital tersebut kini semakin sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.

Pergerakan pasar kripto saat ini banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi kepemilikan aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap, termasuk Bitcoin, emas, dan perak.

Di tengah tekanan tersebut, harga Bitcoin sempat mendekati level US$58.000 setelah mengalami koreksi cukup dalam. Penurunan yang terjadi bersamaan dengan melemahnya harga logam mulia memunculkan kembali perdebatan mengenai status Bitcoin sebagai aset lindung nilai layaknya emas.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin semakin sering diposisikan sejajar dengan emas karena sama-sama memiliki jumlah pasokan yang terbatas. 

Keduanya dianggap mampu menjaga nilai kekayaan ketika nilai mata uang fiat melemah akibat meningkatnya utang pemerintah maupun ekspansi jumlah uang beredar. Strategi investasi ini dikenal sebagai debasement trade.

Saat strategi tersebut diminati investor sepanjang 2025, aliran dana mengalir deras ke Bitcoin, emas, dan perak. Namun ketika sentimen berubah, ketiga aset tersebut juga mengalami tekanan secara bersamaan.

Perubahan sentimen kali ini dipicu oleh sikap Federal Reserve yang memberi sinyal kebijakan moneter lebih ketat. Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat. 

Situasi ini mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap yang dinilai lebih menarik dibanding aset seperti Bitcoin maupun logam mulia yang tidak menghasilkan bunga atau dividen.

Hubungan antara suku bunga dan Bitcoin tergolong sederhana. Ketika bunga meningkat, obligasi dan instrumen keuangan lainnya menawarkan keuntungan yang lebih pasti dengan risiko lebih rendah. 
Sebaliknya, keuntungan investasi Bitcoin sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga, sehingga biaya peluang untuk memilikinya ikut meningkat saat suku bunga naik.

Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat juga memberikan tekanan tambahan. Karena Bitcoin, emas, dan perak diperdagangkan menggunakan dolar, kenaikan nilai mata uang tersebut membuat harga aset menjadi lebih mahal bagi investor internasional. Akibatnya, permintaan global cenderung melemah dan tekanan jual semakin besar.

Meski kerap dibandingkan dengan emas, performa Bitcoin sepanjang 2025 tidak selalu sejalan. Emas dan perak sempat mencatat kenaikan lebih tinggi, sementara Bitcoin bergerak dalam kisaran harga yang lebih terbatas. Namun ketika pasar memasuki fase risk-off atau menghindari aset berisiko, Bitcoin kembali bergerak searah dengan logam mulia.

Di sisi lain, arus investasi global juga mulai beralih ke saham-saham teknologi, terutama perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). 

Tingginya minat terhadap sektor tersebut menyebabkan sebagian modal keluar dari pasar komoditas maupun aset digital, sehingga tekanan terhadap Bitcoin semakin besar.

Meski demikian, masih terdapat sinyal positif bagi Bitcoin. Dalam beberapa bulan terakhir, kinerja Bitcoin terhadap emas dan perak mulai menunjukkan perbaikan. 

Hal ini mengindikasikan bahwa minat investor terhadap aset digital terbesar tersebut belum sepenuhnya hilang, meskipun kondisi ekonomi global masih kurang mendukung.

Ke depan, arah pergerakan Bitcoin diperkirakan masih sangat bergantung pada kebijakan Federal Reserve. Jika bank sentral AS tetap mempertahankan suku bunga tinggi dan sikap hawkish, tekanan terhadap aset kripto kemungkinan berlanjut. 

Sebaliknya, apabila inflasi mulai terkendali dan peluang penurunan suku bunga terbuka, sentimen terhadap Bitcoin berpotensi membaik.

Secara keseluruhan, pelemahan Bitcoin yang terjadi bersamaan dengan emas dan perak menunjukkan bahwa ketiga aset tersebut kini semakin dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global. 

Kebijakan suku bunga, pergerakan dolar AS, serta perpindahan dana investor ke sektor lain menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.

Walaupun volatilitas masih tinggi, prospek jangka panjang Bitcoin dinilai tetap terbuka selama adopsi aset digital terus berkembang dan kondisi ekonomi global kembali mendukung. 

Namun, investor tetap disarankan memahami risiko investasi kripto, melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR), serta menggunakan dana yang siap menanggung risiko sebelum melakukan transaksi.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update