Notification

×

Iklan

Seabad Gempa 1926, Yose Hendra Luncurkan Buku Gempa Tujuh Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 00:19 WIB Last Updated 2026-06-28T17:19:00Z

Peluncuran Buku Gempa Tujuh Hari karya Yose Hendra

Padang Panjang, Rakyatterkini.com– Tepat 100 tahun lalu, pada 28 Juni 1926, kawasan Dataran Tinggi Padang atau Padangsche Bovenlanden di wilayah Pantai Barat Sumatra diguncang gempa bumi dahsyat yang menimbulkan kerusakan besar dan memakan banyak korban jiwa.

Untuk mengenang sekaligus mendokumentasikan kembali peristiwa bersejarah tersebut, jurnalis dan pemerhati sejarah Yose Hendra menerbitkan buku berjudul Gempa Tujuh Hari. Buku yang memiliki lebih dari 300 halaman itu resmi diperkenalkan kepada publik di kompleks Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang pada Sabtu (27/6/2026).

Karya tersebut merupakan hasil penelitian mandiri yang dilakukan Yose selama sekitar 14 tahun melalui penelusuran berbagai arsip sejarah, dokumen kolonial, hingga catatan ilmiah mengenai gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada masa Hindia Belanda.

Menurut Yose, peluncuran buku ini sengaja dilakukan bertepatan dengan peringatan satu abad gempa Padang Panjang agar menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Sumatera Barat.

Ia menjelaskan bahwa gempa tahun 1926 merupakan salah satu peristiwa gempa darat dengan dokumentasi paling lengkap yang berasal dari aktivitas Sesar Sumatra. Dari berbagai data yang dihimpunnya, gempa tersebut memperlihatkan fenomena gempa kembar (doublet earthquake), yakni dua gempa utama yang terjadi dalam waktu berdekatan tetapi berasal dari segmen patahan yang berbeda.

Gempa pertama tercatat terjadi pada pukul 10.04.28 waktu setempat dengan pusat gempa berada di Segmen Sumani dan berkekuatan lebih dari magnitudo 6,6. Selang hampir tiga jam kemudian, tepat pukul 12.56.47, gempa kedua yang lebih kuat mengguncang kawasan tersebut dengan sumber berada di Segmen Sianok.

Yose mengungkapkan bahwa informasi mengenai waktu kejadian hingga koordinat gempa diperoleh dari rekaman seismograf milik Observatorium Batavia, yang kini menjadi bagian dari sejarah perkembangan BMKG. Catatan tersebut menunjukkan bahwa gempa kedua memiliki intensitas sekitar MMI IX sehingga menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan guncangan pertama.

Pascabencana itu, Pemerintah Hindia Belanda mengirim sejumlah ilmuwan, di antaranya ahli seismologi S.W. Visser dan vulkanolog M.E. Akkersdijk, untuk melakukan penelitian lapangan. Hasil kajian mereka menyimpulkan bahwa gempa dipicu oleh aktivitas tektonik akibat pergeseran patahan besar yang membentang dari utara hingga selatan Pulau Sumatra, yang saat ini dikenal sebagai Sesar Semangko.

Di kalangan masyarakat Minangkabau, peristiwa tersebut lebih dikenal dengan nama Gampo Toedjoeh Hari atau Gempa Tujuh Hari. Sebutan itu muncul karena gempa susulan terus terjadi selama beberapa hari, bahkan getarannya masih tercatat hingga Agustus 1926. Situasi tersebut membuat banyak warga memilih tinggal di ruang terbuka karena khawatir gempa kembali terjadi.

Berdasarkan arsip primer kolonial yang dimuat dalam laporan Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie tahun 1927, wilayah Padang Panjang menjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah. Sedikitnya 2.383 rumah di Padang Panjang, X Koto, Batipuh, Sumpur, hingga Malalo mengalami roboh atau rusak berat.

Korban meninggal dunia mencapai sedikitnya 247 orang. Sementara itu, kantor berita Aneta pada masa tersebut memperkirakan total kerugian akibat bencana mencapai sekitar 10 juta gulden.

Selain menghancurkan permukiman, pergerakan Sesar Sumatra juga mengakibatkan deformasi tanah yang merusak berbagai fasilitas umum. Rel kereta api dilaporkan melengkung dan terangkat dari bantalan, sejumlah jembatan mengalami kerusakan berat, bahkan Danau Singkarak memunculkan gelombang besar (seiche) yang merendam kawasan pertanian di sekitarnya.

Meski menyisakan kehancuran, bencana itu juga memunculkan solidaritas yang luar biasa. Bantuan datang dari berbagai wilayah di Hindia Belanda hingga negara-negara Eropa. Kajian arsip yang dilakukan Yose juga menunjukkan bahwa rumah adat Minangkabau memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap gempa dibandingkan bangunan tembok bergaya kolonial karena menggunakan struktur yang lebih lentur.

Yose menilai pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa bangunan di daerah rawan gempa tidak harus selalu terlihat kokoh, tetapi harus mampu mengikuti pergerakan tanah saat terjadi guncangan. Menurutnya, arsitektur tradisional Minangkabau telah lama menyimpan pengetahuan mitigasi bencana yang lahir dari pengalaman masyarakat hidup berdampingan dengan gempa.

Buku Gempa Tujuh Hari mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Pakar geologi dan geotektonik BRIN, Danny Hilman Natawidjaja, menyebut karya tersebut menjadi kontribusi penting dalam memahami kembali sejarah geologi Sumatra yang hingga kini masih sangat aktif secara tektonik.

Danny menjelaskan bahwa Pulau Sumatra berada pada salah satu sistem tektonik paling aktif di dunia. Interaksi antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia menciptakan deformasi yang kompleks dan terus berlangsung hingga sekarang.

Ia juga menilai buku tersebut berhasil menunjukkan bahwa pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam membangun sistem mitigasi bencana. Menurutnya, perpaduan antara hasil penelitian ilmiah dan kearifan masyarakat merupakan modal utama dalam membentuk komunitas yang tangguh menghadapi ancaman gempa bumi.

Apresiasi serupa disampaikan Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang, Suaidi Ahadi. Ia menilai buku tersebut menawarkan sudut pandang baru mengenai karakteristik gempa besar di Sumatra, khususnya terkait fenomena gempa kembar yang juga ditemukan pada peristiwa tahun 1943 dan 2007.

Suaidi menambahkan, keberhasilan Yose menemukan rekaman seismogram gempa 1926 menjadi kontribusi yang sangat berharga karena memungkinkan para peneliti menghitung kembali energi gempa, memperkirakan magnitudonya, sekaligus memahami mekanisme sumber gempa berdasarkan arah deformasi tanah yang terekam melalui perubahan bentuk rel kereta api.

Peluncuran buku ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Refleksi Satu Abad Gempa 1926 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Padang Panjang. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan peletakan batu pertama pembangunan penanda sejarah sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa bersejarah itu.

Mewakili Wali Kota Padang Panjang, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, I Putu Venda, menyampaikan bahwa peringatan seabad gempa bukan sekadar mengenang tragedi, tetapi juga mengingatkan generasi sekarang dan mendatang bahwa kota tersebut pernah menghadapi salah satu bencana terbesar dalam sejarahnya.

Ia berharap semangat kebersamaan, gotong royong, dan ketangguhan yang ditunjukkan masyarakat setelah gempa dapat terus diwariskan. Menurutnya, refleksi satu abad gempa harus menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana, serta membangun masyarakat yang semakin siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update