Notification

×

Iklan

OpenAI Tertekan Biaya Operasional AI yang Melonjak

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:36 WIB Last Updated 2026-06-18T21:13:17Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Lonjakan popularitas kecerdasan buatan (AI) telah mengangkat OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, ke posisi puncak industri teknologi. Namun di balik kesuksesan tersebut, perusahaan ini ternyata menghadapi tekanan finansial besar akibat biaya operasional yang terus membengkak.

Berdasarkan dokumen keuangan yang diduga bocor dan diperoleh jurnalis independen Ed Zitron, OpenAI sedang berada dalam situasi yang cukup sulit. Di satu sisi, teknologi AI mereka berkembang sangat cepat, tetapi di sisi lain biaya pengembangan dan operasionalnya meningkat jauh lebih pesat dibandingkan pendapatan yang masuk.

Dokumen tersebut muncul menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO), dan memperlihatkan realitas industri AI saat ini: pendapatan miliaran dolar belum tentu mampu menutupi biaya komputasi dan pengembangan yang sangat tinggi, seperti dikutip dari TechSpot via detikINET (18/6/2026).

1. Pendapatan Naik Tajam, Biaya Ikut Melonjak

Secara bisnis, OpenAI memang mencatat pertumbuhan yang sangat agresif. ChatGPT kini digunakan lebih dari 900 juta pengguna aktif setiap minggu, dengan sekitar 50 juta di antaranya berlangganan layanan berbayar. Meski demikian, pertumbuhan ini tidak otomatis membuat perusahaan lebih efisien secara finansial.

Ringkasan kondisi keuangan OpenAI dari 2024 ke 2025 menunjukkan lonjakan signifikan baik di sisi pemasukan maupun pengeluaran:

Pendapatan naik dari USD 3,7 miliar menjadi USD 13,07 miliar
Biaya riset dan pengembangan melonjak dari USD 7,81 miliar menjadi USD 19,18 miliar
Beban pokok pendapatan meningkat dari USD 2,65 miliar menjadi USD 7,5 miliar
Biaya penjualan naik dari USD 1,11 miliar menjadi USD 5,73 miliar
Kerugian operasional membesar dari USD 8,78 miliar menjadi USD 20,92 miliar
2. Aliran Dana Besar ke Microsoft

Salah satu pos pengeluaran terbesar OpenAI ada pada riset dan pengembangan yang mencapai USD 19,18 miliar atau sekitar Rp 311 triliun. Sebagian besar dana ini digunakan untuk melatih model AI terbaru serta membayar infrastruktur komputasi.

Pada 2025 saja, sekitar USD 10,59 miliar dari anggaran tersebut dialirkan ke Microsoft sebagai mitra utama infrastruktur mereka.

Selain biaya pelatihan, pengeluaran tidak berhenti ketika model selesai dibuat. Setiap permintaan atau “prompt” dari pengguna ChatGPT membutuhkan daya komputasi besar (inference), dan jika dikalikan jutaan interaksi, biayanya menjadi sangat besar.

3. Kerugian Besar yang Tampak “Melebih-lebihkan”

Laporan tersebut juga mencatat kerugian bersih OpenAI pada 2025 mendekati USD 39 miliar. Namun angka ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional sebenarnya.

Sebagian besar kerugian tersebut berasal dari penyesuaian akuntansi satu kali akibat perubahan valuasi perusahaan setelah bertransformasi menjadi entitas berorientasi laba. Jika komponen itu dihapus, kerugian inti operasional OpenAI berada di kisaran sekitar USD 8 miliar.

4. Perubahan Strategi, Fokus ke Bisnis

Tekanan biaya membuat OpenAI mulai mengubah arah strategi bisnisnya. Beberapa proyek non-inti dihentikan, termasuk proyek AI video bernama Sora.

Perusahaan kini lebih memusatkan perhatian pada produk inti yang ditujukan untuk pengembang dan klien korporat. Namun segmen bisnis juga menghadapi tantangan, karena banyak perusahaan mulai mempertanyakan model harga berbasis token dan menuntut keuntungan investasi yang lebih jelas.

Di sisi lain, persaingan ketat dengan perusahaan seperti Anthropic turut menekan harga layanan di pasar AI.

5. Dukungan Investor Masih Kuat

Meski kondisi keuangan terlihat berat, minat investor terhadap OpenAI tetap tinggi. Pada Maret 2026, perusahaan berhasil mendapatkan pendanaan besar senilai USD 122 miliar dengan valuasi mencapai USD 852 miliar.

Kepada para investor, OpenAI menargetkan dapat mencapai titik impas dan mulai meraih keuntungan sekitar tahun 2030.

Saat ini, OpenAI masih berada dalam fase ekspansi besar-besaran dengan pembakaran modal yang tinggi. Tantangan ke depan adalah apakah pertumbuhan pengguna dan permintaan AI mampu terus menutupi biaya infrastruktur yang juga terus meningkat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update