Bukittinggi, Rakyatterkini.com – Kota Bukittinggi tidak hanya terkenal dengan pesona alamnya yang menawan serta destinasi wisata ikonik seperti Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan kawasan Pasa Lereng. Kota ini juga memiliki beragam kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini.
Selain nasi kapau, pisang panggang santan, dan sate danguang-danguang, terdapat satu jajanan khas yang cukup legendaris dan patut dicoba saat berkunjung, yaitu gulo-gulo tareh.
Gulo-gulo, atau permen tradisional khas Bukittinggi ini, dibuat dari gula tebu lawang yang diolah secara sederhana. Meski proses pembuatannya tidak rumit, hasilnya menghadirkan rasa manis yang khas serta memberikan sensasi segar saat dikonsumsi.
Sementara itu, kata “tareh” sendiri berarti keras. Jajanan ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat. Namun, keberadaannya kini semakin jarang ditemui dibandingkan masa lalu ketika masih mudah ditemukan di berbagai tempat.
Salah satu pedagang yang masih mempertahankan keberadaan jajanan ini adalah Pak In, yang berjualan di Pasar Putih Bukittinggi, tepatnya di kawasan Los Maco. Bersama istrinya, Buk As, ia menjajakan gulo-gulo tareh yang dipasok dari Pakan Sinayan dan dijual setiap hari di lapaknya.
Permen ini memiliki bentuk khas bulat kecil dengan lapisan tepung ubi di bagian luar. Lapisan tersebut berfungsi agar permen tidak saling lengket saat dimakan sekaligus memberikan tekstur lembut di mulut.
Jika dahulu gulo-gulo tareh berbentuk panjang dan dibungkus daun atau karisiak, kini kemasannya sudah beralih menggunakan plastik agar lebih praktis dan tahan lama.
“Sekarang sudah jarang yang jual. Dulu banyak, sekarang tinggal sedikit. Tapi masih ada juga yang mencari, terutama saat musim liburan,” ujar Pak In saat ditemui di lapaknya, Kamis (4/6/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa rasa manis pada permen ini cenderung pas dan tidak berlebihan. Menurutnya, banyak pembeli yang menyukai cita rasanya karena berbeda dari jajanan modern.
“Rasanya manisnya pas, tidak terlalu kuat. Biasanya yang coba langsung suka. Katanya juga bisa untuk menghangatkan badan dan menambah stamina,” tambahnya.
Dari sisi harga, jajanan tradisional ini masih cukup terjangkau. Untuk ukuran kecil dijual empat buah seharga Rp10 ribu, ukuran sedang Rp5 ribu per buah, sementara kemasan 100 gram dibanderol sekitar Rp15 ribu.
Pada musim liburan, penjualan gulo-gulo tareh biasanya meningkat karena banyak wisatawan yang datang ke Bukittinggi dan penasaran ingin mencicipi jajanan tradisional yang kini mulai langka tersebut.
Di tengah maraknya makanan modern, gulo-gulo tareh tetap bertahan sebagai salah satu simbol kekayaan kuliner Minangkabau yang layak untuk terus dilestarikan.(da*)


