Notification

×

Iklan

Agam Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Potensi Lokal

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:19 WIB Last Updated 2026-06-25T17:19:00Z

Foto bersama

Lubuk Basung, Rakyatterkini.com– Pemerintah Kabupaten Agam menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang bertumpu pada potensi dan kearifan lokal. Hal tersebut disampaikan Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Agam, Syatria, saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) dan diseminasi hasil pengabdian kepada masyarakat Program Equity-The Impact Ranking 2025–2026 yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang (UNP).

Menurut Syatria, Nagari Matua Hilia memiliki beragam potensi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia menilai sektor pariwisata yang mengedepankan budaya dan tradisi lokal dapat menjadi salah satu motor penggerak pembangunan daerah.

Ia menjelaskan, pengembangan wisata berbasis kearifan lokal tidak hanya berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat, tetapi juga berperan dalam menjaga serta melestarikan identitas budaya daerah. Karena itu, berbagai potensi yang ada perlu dikelola secara terintegrasi agar memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Selain memiliki destinasi wisata yang menarik, Nagari Matua Hilia juga dikenal dengan beragam produk UMKM khas daerah. Beberapa di antaranya adalah gula saka, gula semut, kacang goreng atau randang kacang, kerupuk ubi saka, minuman air tebu, nasi tanguli, tumbang, hingga labu kuning yang telah dikenal sebagai salah satu produk unggulan di Sumatera Barat.

Syatria menekankan bahwa berbagai produk lokal tersebut dapat dikemas menjadi bagian dari paket wisata yang unik dan berkarakter. Atraksi budaya seperti pertunjukan seni tradisional serta sajian kuliner khas daerah juga dinilai mampu menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang berkunjung.

Ia optimistis, jika strategi pengembangan tersebut dijalankan secara konsisten dan melibatkan berbagai pihak, sektor pariwisata di Nagari Matua Hilia akan berkembang lebih cepat dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat.

Saat ini, Nagari Matua Hilia memiliki sejumlah objek wisata yang cukup beragam, mulai dari Taman Wisata Guguak Endah yang menawarkan panorama alam, Wisata Batang Kasiak, Pincuran Gadang, Aia Maambau, hingga wisata arung jeram di Batang Matua. Kawasan Matur Katik juga memiliki destinasi unggulan seperti Aia Sonsang dan Goa Inyiak Janun.

Potensi tersebut semakin didukung oleh keberadaan sejumlah destinasi dan pelaku UMKM berbasis budaya lokal di wilayah sekitarnya, seperti Puncak Lawang, Balai Adat Matur, Rumah Gadang Mudiak Pasar Matur, serta Ambun Tanai.

Untuk memaksimalkan seluruh potensi yang ada, Syatria menilai diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut penting untuk memperkuat daya saing ekonomi kreatif berbasis lokal, termasuk melalui pemanfaatan promosi digital agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Melalui forum diskusi tersebut, berbagai pihak juga diajak untuk membahas dan merumuskan langkah-langkah dalam memperkuat peran UMKM lokal, sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi daerah.

Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Kerja Sama, Reputasi, dan Internasionalisasi UNP, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNP, serta Ketua LPPM UNP. Peserta FGD berasal dari unsur pemerintah daerah dan pelaku UMKM dari Kota Padang, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Tanah Datar.

Selain Syatria, sejumlah narasumber lain juga memberikan pemaparan. Prof. Dr. Desnita, M.Si membahas konsep Green Entrepreneurship melalui pengembangan produk lokal berbasis zero waste. Sementara itu, Prof. Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd., MM dari Universitas Negeri Malang memaparkan strategi transformasi UMKM berkelanjutan melalui inovasi, digitalisasi, dan peningkatan daya saing.

Dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Arif Sabta Aii, S.Gz menjelaskan upaya peningkatan nilai tambah produk pangan lokal, khususnya kolang-kaling, melalui inovasi dan penguatan kandungan gizi. Adapun praktisi UMKM sekaligus Owner Rendang Mizaki, Sri Wahyuni, berbagi pengalaman mengenai perjalanan membangun usaha pangan lokal hingga mampu berkembang dan bersaing, termasuk tantangan serta strategi yang diterapkan dalam menjalankan bisnisnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update