Padang, Rakyatterkini.com — Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Setiawan, membuka Rapat Kerja Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) Universitas Negeri Padang (UNP) untuk Tahun Anggaran 2027, Jumat (8/5/2026).
Rapat ini dihadiri berbagai unsur pimpinan kampus, mulai dari Ketua Majelis Wali Amanat (MWA), Ketua Senat Universitas, para dekan dan direktur, hingga jajaran dosen serta tenaga kependidikan di lingkungan UNP.
Dalam sambutannya, Rektor UNP Krismadinata memaparkan tiga prioritas utama dalam penyusunan program kerja tahun 2027.
Fokus tersebut mencakup perencanaan program yang lebih terarah dan memberikan dampak nyata, peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya dosen, serta upaya meningkatkan jumlah lulusan yang dapat menyelesaikan studi tepat waktu dan terserap di dunia kerja.
Ia juga menyampaikan target ambisius UNP untuk memiliki 1.000 dosen bergelar doktor pada tahun 2029 melalui berbagai program beasiswa pendidikan lanjutan. Krismadinata berharap arahan dari pihak kementerian dapat membantu mewujudkan target tersebut.
Selain membuka acara, Setiawan juga menjadi pembicara utama dengan menyampaikan materi mengenai arah kebijakan dan strategi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang berorientasi pada dampak.
Paparan tersebut merupakan bagian dari Rencana Strategis Kemdiktisaintek 2025–2029 yang diselaraskan dengan RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029 dalam rangka mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Dalam penjelasannya, Setiawan menekankan pentingnya sinkronisasi antara kebijakan strategis kementerian dengan langkah yang diambil masing-masing perguruan tinggi, termasuk UNP sebagai institusi berstatus PTNBH.
Ia mengungkapkan terdapat 11 indikator kinerja utama yang menjadi acuan bagi perguruan tinggi. Beberapa di antaranya meliputi persentase lulusan yang bekerja atau melanjutkan studi dalam waktu satu tahun setelah lulus, jumlah dosen dengan pengakuan internasional, tingkat publikasi di jurnal bereputasi seperti Scopus dan Web of Science (WoS), serta hasil kerja sama kampus dengan dunia industri dan startup.
Setiawan juga menyoroti sejumlah tantangan dalam dunia pendidikan tinggi nasional, antara lain belum optimalnya penerapan otonomi perguruan tinggi, rendahnya dampak riset, keterbatasan kolaborasi antara kampus dan industri, serta ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah.
Selain itu, ia menyinggung posisi Indonesia yang masih relatif rendah dalam indeks Tertiary Inbound Mobility UNESCO 2023, yang menunjukkan daya tarik perguruan tinggi terhadap mahasiswa asing. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah, termasuk pembentukan pusat layanan mahasiswa asing dan penguatan kerja sama internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Setiawan juga memaparkan program prioritas hilirisasi riset bertajuk Technopreneurs yang dirancang berjalan hingga 2029. Program ini ditargetkan mampu melahirkan 4.512 startup, menyerap sekitar 1,75 juta tenaga kerja, serta memberikan kontribusi sebesar Rp192,8 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB).
Rapat kerja ini turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas, poin ke-8 terkait pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta poin ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. (da*)


