Padang, Rakyatterkini.com – Universitas Andalas kembali menegaskan penguatan reputasinya di tingkat nasional maupun internasional.
Hal ini disampaikan dalam Wisuda II Tahun 2026 yang berlangsung di Kampus Limau Manis pada Sabtu (9/5), saat Rektor Efa Yonnedi menyoroti pentingnya kesiapan lulusan menghadapi era kecerdasan buatan (AI), disrupsi teknologi, serta perubahan cepat di dunia kerja.
Di hadapan ribuan wisudawan dan tamu undangan, Rektor menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu beradaptasi dan memiliki integritas yang kuat.
“Kita berada pada masa perubahan yang sangat cepat. Menjadi future ready bukan sekadar mengetahui semua jawaban, tetapi berani menghadapi pertanyaan baru dan terus belajar sepanjang hayat,” ujar Efa Yonnedi.
Dalam kesempatan tersebut, UNAND juga memaparkan berbagai capaian penting sepanjang 2025 hingga awal 2026. Kampus ini telah meraih Akreditasi Institusi “Unggul” dari BAN-PT yang berlaku hingga 2028. Selain itu, sekitar 57 persen program studi di UNAND juga telah berstatus unggul.
Di level internasional, UNAND kembali masuk dalam pemeringkatan Times Higher Education tahun 2025 dan berhasil menempati posisi ke-8 secara nasional. Bahkan, pada kategori Interdisciplinary Science Ranking, UNAND berada di peringkat 201–250 dunia.
“Ini menunjukkan bahwa Universitas Andalas tidak hanya dikenal di Sumatera dan Indonesia, tetapi juga mulai diakui di tingkat global,” tambahnya.
Selain penguatan akademik, UNAND juga terus mempercepat transformasi digital di lingkungan kampus. Berbagai inovasi telah diterapkan, seperti penggunaan tanda tangan elektronik pada ijazah, pengembangan platform MyUNAND, sistem SAKU Digital, serta penguatan layanan Pusat Layanan Terpadu untuk meningkatkan kualitas administrasi dan layanan mahasiswa.
Momen wisuda tahun ini juga diwarnai pesan inklusivitas. UNAND memberikan apresiasi kepada Rafael Fadly Harianja, mahasiswa penyandang disabilitas rungu dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian yang turut diwisuda. Kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam prosesi tersebut menjadi bukti komitmen kampus dalam menghadirkan pendidikan yang ramah dan inklusif.
“Kehadiran Rafael membuktikan bahwa akses pendidikan harus terbuka untuk semua anak bangsa,” ungkap rektor.
Menutup sambutannya, Rektor Efa Yonnedi mengingatkan para lulusan agar selalu menjaga integritas dan nama baik almamater di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Ilmu tanpa adab adalah bahaya. Kemampuan tanpa integritas adalah bencana,” tegasnya.(da*)


