Notification

×

Iklan

TKA Sosiologi Kini Uji Nalar Kritis Siswa

Rabu, 06 Mei 2026 | 11:16 WIB Last Updated 2026-05-06T04:16:00Z

Pembukaan SANTIKA SYNTHESIS 2026 

Padang, Rakyatterkini.com – Metode pembelajaran sosiologi di tingkat SMA kini didorong untuk mengalami perubahan signifikan. 

Jika sebelumnya ujian lebih menekankan pada hafalan teori, saat ini penilaian mulai diarahkan pada kemampuan berpikir kritis siswa dalam memahami berbagai fenomena sosial.

Pemikiran ini mengemuka dalam ajang nasional SANTIKA SYNTHESIS 2026 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (UNP), Selasa (5/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, dua akademisi sosiologi UNP, yakni Kepala Departemen Sosiologi Delmira Syafrini dan Guru Besar Prof. Erianjoni, memaparkan pentingnya penguatan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sosiologi bagi pelajar.

Keduanya menilai bahwa TKA tidak lagi tepat jika hanya dipandang sebagai alat untuk menguji hafalan konsep. Saat ini, TKA berfungsi sebagai sarana untuk mengukur kemampuan siswa dalam menganalisis fenomena sosial, memahami persoalan yang kompleks, serta mengaitkan teori dengan kondisi nyata di masyarakat.

Dalam makalahnya berjudul Optimalisasi Tes Potensi Akademik (TKA) Sosiologi sebagai Instrumen Penguatan Critical Thinking Siswa, Delmira menjelaskan bahwa TKA dirancang untuk menggali pemahaman mendalam sekaligus kemampuan analisis siswa.

Ia menekankan bahwa siswa tidak cukup hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga perlu memiliki kepekaan sosial, memahami struktur masyarakat, serta mampu berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif.

Menurutnya, kemampuan berpikir analitis, adaptasi, dan kepekaan terhadap dinamika sosial menjadi faktor penting dalam menghadapi ujian TKA.

Delmira juga mengungkapkan bahwa bentuk soal TKA kini semakin beragam dan menantang. Tidak lagi sebatas pilihan ganda biasa, tetapi juga mencakup model pilihan ganda kompleks seperti multiple choice multiple answers (MCMA) dan kategori analisis.

Model soal ini menuntut ketelitian tinggi dari siswa dalam memahami kasus, bukan sekadar mengandalkan ingatan.

Untuk itu, ia menyarankan guru agar menyederhanakan penyampaian materi, membuat peta konsep yang jelas, memperkuat pemahaman kata kunci, serta memperbanyak latihan berbasis analisis kasus.

Selain itu, siswa juga perlu dibiasakan membaca soal melalui tiga tahap, yaitu mengidentifikasi fenomena, menentukan konsep utama, dan memilih jawaban yang paling tepat.

Sementara itu, Prof. Erianjoni turut menyoroti perubahan karakter soal TKA yang kini lebih menekankan kemampuan analisis mendalam.

Ia menilai bahwa perubahan ini tidak hanya menjadi tantangan bagi siswa, tetapi juga menuntut guru dan sekolah untuk meninggalkan metode pembelajaran berbasis hafalan dan beralih ke pendekatan yang lebih konseptual.

Menurutnya, tren soal TKA Sosiologi tahun 2026 akan banyak mengangkat isu-isu sosial kontemporer, seperti konflik sosial, perubahan masyarakat, struktur kelas, penelitian sosial, globalisasi, hingga dampak perkembangan teknologi terhadap perilaku manusia.

Ia juga menegaskan pentingnya pemahaman dasar sosiologi sebagai ilmu yang bersifat empiris, teoretis, kumulatif, dan nonetis. Pemahaman ini penting agar siswa mampu membedakan antara fenomena sosial yang bersifat ilmiah dan sekadar opini pribadi.

Ajang SANTIKA SYNTHESIS 2026 yang mengusung tema Write The Vision, Draw The Reality ini diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah.

Ketua pelaksana, Aufa Raihan, menyebutkan bahwa kompetisi olimpiade sosiologi tingkat SMA diikuti oleh 531 peserta dari 89 sekolah yang berasal dari 17 provinsi di Indonesia. Selain itu, lomba untuk mahasiswa berupa esai dan video dokumenter juga diikuti oleh 41 peserta dari 11 provinsi.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi nasional antara pelajar dan mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, khususnya di bidang ilmu sosial.

Melalui kegiatan ini, para akademisi menegaskan bahwa pembelajaran sosiologi seharusnya berfokus pada kemampuan memahami realitas sosial, menganalisis perubahan, serta merumuskan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan sosial, kegiatan ini juga diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas Negeri Padang, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi se-Sumatera Barat.

Kerja sama ini diharapkan dapat mempersiapkan siswa secara lebih matang dalam menghadapi sistem pembelajaran dan evaluasi yang kini berfokus pada kemampuan analisis dan penalaran.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update