Jakarta, Rakyatterkini.com – Tanggal 8 Mei 2026 kembali diperingati sebagai Hari Kanker Ovarium Sedunia yang dirayakan setiap tahun di berbagai negara. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap bahaya kanker ovarium yang dikenal sebagai salah satu penyakit mematikan pada perempuan.
Indonesia sendiri tercatat masuk dalam 10 besar negara dengan jumlah kasus kanker ovarium tertinggi di dunia, dengan estimasi sekitar 15.130 kasus baru setiap tahunnya.
Di dalam negeri, kanker ovarium berada di posisi ketiga kanker yang paling banyak menyerang perempuan, setelah kanker payudara dan kanker serviks.
Penyakit ini kerap disebut sebagai “silent killer” karena pada tahap awal gejalanya tidak khas, sehingga banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah berada pada stadium lanjut.
Hingga kini, penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui secara jelas. Namun, berbagai penelitian menunjukkan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini, seperti usia, usia pertama menstruasi (menarche), jumlah persalinan, riwayat keluarga, indeks massa tubuh (IMT), serta penggunaan kontrasepsi. Risiko kanker ovarium juga meningkat seiring bertambahnya usia, dengan kasus terbanyak ditemukan pada perempuan berusia di atas 50 tahun.
Selain itu, beberapa faktor lain yang turut berkontribusi terhadap peningkatan risiko kanker ovarium antara lain kebiasaan merokok, terapi hormon pada masa menopause, adanya riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara, obesitas, endometriosis, sindrom Lynch, serta riwayat menjalani radioterapi.
Gejala kanker ovarium pada stadium lanjut umumnya tidak spesifik dan sering menyerupai gangguan kesehatan lain. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi perut kembung, cepat merasa kenyang, nyeri perut, mual, sembelit, pembengkakan perut, penurunan berat badan, sering buang air kecil, nyeri punggung bagian bawah, nyeri saat berhubungan seksual, perdarahan vagina, serta perubahan siklus menstruasi pada wanita yang masih haid.
Jika gejala tersebut berlangsung lebih dari dua minggu, disarankan segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan juga perlu dilakukan apabila terdapat benjolan di area perut atau gangguan pencernaan yang terus berulang seperti kembung, cepat kenyang, sakit perut, maupun sembelit.(da*)


