Jakarta, Rakyatterkini.com – Fenomena El Niño yang saat ini mulai berkembang diperkirakan dapat menguat menjadi Super El Niño pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak global yang luas, mulai dari cuaca ekstrem, ancaman ketahanan pangan, hingga potensi kerugian ekonomi yang mencapai triliunan dolar AS.
El Niño sendiri merupakan bagian dari siklus iklim alami di Samudra Pasifik yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah sekitar garis khatulistiwa. Perubahan suhu ini kemudian memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dan berdampak pada kondisi cuaca di berbagai kawasan dunia.
Dalam skenario Super El Niño, dampak yang ditimbulkan dapat menjadi jauh lebih kuat dibanding kejadian normal.
Sejumlah model iklim bahkan menunjukkan bahwa fenomena yang sedang berlangsung saat ini berpotensi menyamai atau melampaui peristiwa besar sebelumnya, seperti El Niño 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tingkat kepastian masih terbatas dan intensitas puncaknya baru bisa dipastikan ketika fenomena benar-benar mencapai fase maksimum.
Mengutip laporan CNN (22/5), pengalaman dari kejadian El Niño di masa lalu menjadi rujukan penting dalam memahami potensi dampaknya saat ini. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science tahun 2023 menyebutkan bahwa El Niño dapat memberikan tekanan jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi global, bahkan setelah kondisi suhu laut kembali normal.
Dalam kajian tersebut, kerugian ekonomi akibat El Niño 1982–1983 diperkirakan mencapai sekitar US$4,1 triliun. Sementara itu, peristiwa El Niño 1997–1998 yang dikenal sebagai “El Niño Abad Ini” disebut menimbulkan dampak ekonomi hingga US$5,7 triliun dalam kurun waktu lima tahun, termasuk masa setelah kejadian berlangsung.
Fenomena El Niño yang saat ini berkembang juga dinilai memiliki kemiripan pola dengan kejadian besar tahun 1997–1998. Namun, para ilmuwan menekankan bahwa El Niño tidak secara langsung menyebabkan bencana tertentu, melainkan mengubah peluang terjadinya kondisi cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Sebagai contoh, El Niño cenderung menurunkan aktivitas badai di kawasan Atlantik, tetapi justru meningkatkan potensi topan di wilayah Pasifik bagian barat dan timur. Perubahan pola ini berdampak signifikan terhadap negara-negara yang berada di jalur rawan bencana.
Di sisi lain, kemampuan prediksi El Niño saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa dekade lalu. Sejak awal 1980-an, perkembangan teknologi dan model iklim telah meningkatkan akurasi prakiraan, sehingga pemerintah dan berbagai lembaga dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal.
Bahkan sejumlah organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk penyediaan cadangan pangan di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi negara-negara berkembang, terutama dalam hal akses informasi dan kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim.
Ilmuwan dari Nathan Lenssen juga menyoroti bahwa kondisi El Niño kali ini terjadi di tengah peningkatan suhu global akibat perubahan iklim, sehingga pola dampaknya menjadi lebih sulit diprediksi dibandingkan kejadian sebelumnya.
Ia menambahkan bahwa perubahan iklim membuat pengalaman El Niño di masa lalu tidak lagi sepenuhnya bisa dijadikan acuan untuk kondisi saat ini. Situasi ini diperburuk dengan berkurangnya dukungan bantuan internasional, termasuk peran lembaga seperti USAID pada periode sebelumnya, yang selama ini membantu negara berkembang menghadapi dampak kekeringan dan krisis pangan akibat fenomena iklim ekstrem.(da*)


