Padang, Rakyatterkini.com – Para penggemar unggas hias tentu sudah tidak asing dengan Ayam Kokok Balenggek (AKB), salah satu jenis ayam khas yang dikenal karena keunikan suara kokoknya yang bertingkat.
Namun bagi masyarakat umum, belum banyak yang mengetahui bahwa ayam ini merupakan salah satu kekayaan genetik unggas lokal yang berasal dari Sumatera Barat.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Prof. Firda Arlina, menjelaskan bahwa AKB memiliki nilai penting dari sisi genetika, ekonomi, sekaligus budaya. Ciri khas suara kokok yang berlapis atau “balenggek” membuatnya tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau.
Dalam pemaparannya, Prof. Firda menyampaikan bahwa saat ini populasi AKB menghadapi berbagai tantangan serius. Di antaranya adalah penurunan jumlah populasi, terjadinya penurunan kemurnian genetik akibat perkawinan silang yang tidak terkontrol, serta berkurangnya kualitas suara kokok. Padahal, ayam ini memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, terutama sebagai ayam hias dan ayam kontes suara yang banyak diminati.
“Keunikan AKB tidak dimiliki oleh ayam lokal lainnya. Suara kokok bertingkat inilah yang menjadi daya tarik utama sekaligus menentukan nilai jualnya,” ujarnya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan bahwa upaya pelestarian perlu dilakukan secara ilmiah dan terarah, seperti melalui seleksi indukan yang tepat, pengaturan perkawinan, pencatatan performa ternak secara sistematis, hingga pemanfaatan teknologi genetika molekuler.
Beberapa gen yang diduga berperan dalam kemampuan vokal unggas, seperti FOXP2, Zenk, reseptor dopamin, dan CCKBR, juga dinilai penting untuk diteliti lebih lanjut guna mendukung proses seleksi yang lebih akurat.
Selain itu, pelestarian AKB perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui metode konservasi di habitat asli (in situ) maupun di luar habitat (ex situ), serta melibatkan penguatan peran kelembagaan dan masyarakat. Ajang kontes suara kokok pun dianggap bukan hanya kegiatan budaya, tetapi juga sarana seleksi sekaligus peningkatan nilai ekonomi ayam tersebut.
Prof. Firda berharap pelestarian AKB dapat dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, hingga para peternak. Dengan kolaborasi tersebut, AKB diharapkan tetap terjaga sebagai aset plasma nutfah unggas lokal sekaligus warisan budaya yang juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.(da*)


