Notification

×

Iklan

Wamenkomdigi Ingatkan Risiko AI pada Daya Kritis

Senin, 20 April 2026 | 03:37 WIB Last Updated 2026-04-19T21:52:34Z

Wamenkomdigi Nezar Patria.

Jakarta, Rakyatterkini.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin meluas membawa potensi risiko serius, terutama terhadap kemampuan berpikir kritis baik di kalangan pelajar maupun tenaga profesional.

Ia menegaskan, jangan sampai perkembangan teknologi membuat manusia kehilangan kemampuan analisis karena terlalu bergantung pada AI. Hal tersebut, menurutnya, bahkan sudah mulai terlihat di dunia pendidikan.

“Jangan sampai daya kritis kita menurun karena semua pekerjaan diserahkan kepada AI. Gejala ini sudah mulai tampak di dunia pendidikan,” kata Nezar saat membuka Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada, Jumat (17/4/2026).

Nezar menjelaskan bahwa pengembangan talenta digital tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis. Ke depan, para talenta juga harus dibekali kemampuan untuk memahami cara menggunakan AI secara tepat serta mampu mengontrol pemanfaatannya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan human-centric dalam pengembangan teknologi AI, di mana manusia tetap menjadi pusat dalam setiap proses pengambilan keputusan melalui konsep human in the loop.

“AI harus dirancang dengan pendekatan yang berpusat pada manusia agar memberikan manfaat yang optimal. Dalam pengambilan keputusan, peran manusia tetap tidak boleh tergantikan,” jelasnya.

Selain itu, Nezar menyoroti kecenderungan penggunaan AI yang serba cepat dan instan. Menurutnya, hal ini bisa berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir kritis serta pertimbangan etika jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik dalam penggunaannya.

Karena itu, ia mendorong agar para talenta digital mampu melakukan evaluasi secara kritis terhadap setiap hasil yang diberikan oleh AI. Proses berpikir dan pengambilan keputusan tidak seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai tantangan di sektor-sektor strategis seperti pangan, energi, kesehatan, dan kemaritiman. Pendekatan berbasis kebutuhan nyata dianggap penting agar teknologi dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Kita perlu memiliki ambisi strategis, bukan hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga memanfaatkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata di sektor prioritas,” ujarnya.

Workshop AI Talent Factory 2 ini diikuti oleh 98 mahasiswa dan 28 dosen dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Program ini bertujuan mencetak talenta digital yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menggunakan dan mengendalikan AI secara bijak serta bertanggung jawab.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update