Notification

×

Iklan

Suporter Semen Padang FC Protes Keras Manajemen

Senin, 20 April 2026 | 16:44 WIB Last Updated 2026-04-20T09:44:00Z

Para pemain Semen Padang FC tengah berlatih di Stadion Haji Agus Salim, Padang

Padang, Rakyatterkini.com – Situasi internal klub kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Semen Padang FC, tengah menjadi perhatian publik. Hubungan antara manajemen dan kelompok suporter disebut sedang memanas setelah muncul gelombang kritik dari dua basis pendukung, yaitu The Kmers dan UWS 1980.

Melalui pernyataan resmi yang diunggah di media sosial, kedua kelompok suporter tersebut menyampaikan kekecewaan mereka terhadap sikap manajemen klub yang dinilai tertutup terhadap kritik, cenderung arogan, serta kerap mengambil keputusan tanpa melibatkan komunikasi dengan suporter.

The Kmers menyoroti tidak hanya performa tim di lapangan, tetapi juga memburuknya pola komunikasi antara pihak pengelola klub dan pendukung. Mereka menilai manajemen lebih sering menyalahkan pihak lain atas hasil kurang memuaskan, ketimbang mencari solusi untuk memperbaiki keadaan.

Dalam pernyataannya, The Kmers menyebut bahwa suporter yang selama ini setia justru merasa tidak dihargai. Sikap manajemen dianggap tidak mencerminkan profesionalisme dan telah melukai perasaan para pendukung yang selama ini menjadi bagian penting perjalanan klub.

Sebagai bentuk kekecewaan, kelompok ini memutuskan untuk menarik dukungan langsung di stadion. Mereka bahkan menyatakan akan memboikot laga Semen Padang FC kontra Persijap, serta pertandingan lainnya sampai waktu yang belum ditentukan. The Kmers juga menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya milik pengelola klub, tetapi juga milik suporter yang berhak mendapatkan keterbukaan dan penghormatan.

Di sisi lain, suara kritis juga datang dari kelompok UWS 1980 dengan permasalahan yang berbeda. Mereka memprotes kebijakan manajemen yang mengeluarkan surat tertanggal 15 April 2026 terkait pembatasan akses tribun bagi kelompok tersebut, dengan alasan adanya chant yang dianggap provokatif.

UWS 1980 mempertanyakan dasar keputusan tersebut karena tidak adanya penjelasan jelas mengenai standar atau batasan yang dimaksud provokatif. Mereka menegaskan bahwa selama ini tidak pernah melakukan tindakan anarkis maupun pelanggaran aturan pertandingan.

Menurut mereka, jika kebijakan tersebut disebut sebagai bentuk pembinaan, maka seharusnya dilakukan melalui dialog, bukan pembatasan akses.

Kelompok ini juga menyoroti Pakta Integritas 2023 yang menurut mereka seharusnya menjadi pedoman ketertiban, namun justru dinilai digunakan untuk membatasi ruang kritik suporter.

UWS 1980 menilai pembatasan akses tanpa adanya pelanggaran nyata dapat menjadi preseden buruk dalam pengambilan kebijakan di masa depan, karena berpotensi menjadikan aturan sebagai alat pembatas aspirasi.

Ketegangan antara suporter dan manajemen ini menjadi tantangan serius bagi Semen Padang FC di tengah kompetisi musim berjalan. Kini, publik menantikan langkah konkret dari manajemen untuk melakukan evaluasi sekaligus membuka ruang dialog demi meredakan konflik dan kembali merangkul dukungan penuh dari para suporter di tribun.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update