![]() |
| Seminar nasional bertajuk Hubungan Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau dengan Kampar, di Aula FIS, UNP. |
Padang, Rakyatterkini.com – Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar seminar nasional bertajuk “Hubungan Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau dengan Kampar” di Aula FIS, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah akademik untuk mengupas keterkaitan historis dan kultural antara Minangkabau dan Kampar yang telah terjalin sejak lama.
Kepala Departemen Sejarah, Dr. Aisiah, menuturkan seminar ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa di Desa Pulau Gadang, Kecamatan XIII Koto Kampar pada Januari 2026 lalu.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya pengalaman akademik mahasiswa, tetapi juga melahirkan implementasi kerja sama antara Prodi Pendidikan Sejarah dengan Pemerintah Desa Pulau Gadang yang telah dirintis sejak 2025.
“Kerja sama ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih mendalam, pengabdian kepada masyarakat, serta pelestarian kearifan lokal,” ujarnya.
Seminar secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FIS UNP, Dr. Hasrul Piliang. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi adat dalam memperkaya wawasan keilmuan mahasiswa.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian, serta akademisi UNP, Dr. Hendra Naldi, dan Dr. Rusdi.
Dr. Rusdi mengulas transformasi kepemimpinan di Desa Pulau Gadang yang kini bergerak dari sistem otonom menuju pola kolaboratif dengan pemerintahan desa formal. Ia menyoroti bahwa meskipun kepala desa dipilih secara demokratis, legitimasi tetap membutuhkan pengukuhan dari pemimpin adat.
Sementara itu, Dr. Hendra Naldi memaparkan tinjauan historis Kampar sebagai bagian dari wilayah Pucuak Rantau Minangkabau yang dahulu terhubung melalui jalur transportasi sungai.
Ia juga menyinggung perubahan tata ruang akibat pembangunan PLTA Koto Panjang yang berdampak pada pola permukiman masyarakat, tanpa menghilangkan identitas kultural mereka.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Syofian Dt. Majosati yang menegaskan Kampar dan Minangkabau merupakan satu kesatuan nilai adat yang tak terpisahkan. Kesamaan sistem kekerabatan matrilineal, adat, tradisi, hingga filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi bukti kuat hubungan tersebut.
Ia juga mengingatkan secara historis Kampar pernah masuk dalam wilayah administrasi Sumatera Barat pada masa kolonial Belanda.
Seminar berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi dari peserta. Diskusi interaktif mengangkat berbagai isu, mulai dari pola migrasi, kesamaan dialek, hingga struktur adat di Kampar.
Melalui kegiatan ini, Prodi Pendidikan Sejarah FIS UNP menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mengkaji sejarah di ruang kelas, tetapi juga aktif membangun kembali jalinan budaya melalui kegiatan lapangan dan kolaborasi lintas wilayah. (*)


