Notification

×

Iklan

Seminar 170 Tahun Kweekschool Soroti Masa Depan Pendidikan

Senin, 27 April 2026 | 04:17 WIB Last Updated 2026-04-26T21:17:00Z

Seminar Kebangsaan bertajuk "Jejak Intelektual,

Bukittinggi, Rakyatterkini.com — Peringatan 170 tahun berdirinya Kweekschool, sekolah guru pertama di Indonesia, menjadi momen penting untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan dunia pendidikan di Tanah Air.

Puncak peringatan tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Seminar Kebangsaan bertema “Jejak Intelektual, Pemikiran & Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sikola Radjo” yang digelar di Gedung Heritage SMAN 2 Bukittinggi pada Sabtu (25/4/2026).

Acara ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Bukittinggi, M. Ramlan Nurmatias, serta dihadiri Asisten I Setdaprov Sumatera Barat, Medi Iswandi, yang mewakili Gubernur Sumatera Barat.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan, mulai dari tenaga pendidik, kepala sekolah SMA se-Kota Bukittinggi, alumni SMAN 2 Bukittinggi, hingga para pemangku kepentingan di sektor pendidikan dari Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Salah satu pemateri utama adalah Mohammad Isa Gautama, akademisi dan dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (UNP). Dalam paparannya yang berjudul “Membaca Sejarah Kweekschool, Merancang Masa Depan Pendidikan Sumatera Barat”, ia menyampaikan pandangan kritis mengenai arah pendidikan di daerah tersebut.

Isa menekankan bahwa sejarah panjang Kweekschool tidak seharusnya hanya dijadikan simbol kebanggaan semata, melainkan perlu dimaknai secara lebih mendalam sebagai bahan evaluasi kondisi pendidikan saat ini di Sumatera Barat.

Ia juga menyoroti adanya paradoks dalam dunia pendidikan di Ranah Minang. Di satu sisi, Sumatera Barat memiliki sejarah kuat sebagai daerah lahirnya banyak guru, ulama, intelektual, dan tokoh bangsa. Namun di sisi lain, masih terdapat persoalan mendasar, terutama terkait kualitas serta kompetensi tenaga pendidik di lapangan.

“Warisan Kweekschool tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus menjadi dorongan untuk memperkuat kualitas guru,” ujarnya dalam forum tersebut.

Sebagai solusi, Isa memperkenalkan gagasan “Kweekschool Baru” yang bukan dimaksudkan sebagai upaya menghidupkan kembali institusi lama secara harfiah, melainkan sebagai konsep kebijakan untuk meningkatkan martabat dan kapasitas guru di Sumatera Barat.

Melalui konsep tersebut, guru diharapkan kembali menjadi pusat utama dalam transformasi pendidikan daerah.

Ia juga menekankan sejumlah kompetensi penting yang perlu dimiliki guru di era modern, seperti pedagogi adaptif, literasi digital dan data, kemampuan berpikir kritis dan reflektif, kecerdasan sosial-emosional, kepemimpinan kolaboratif, serta wawasan global yang tetap berakar pada nilai budaya lokal.

Selain paparan dari akademisi UNP tersebut, seminar ini juga menghadirkan sejumlah tokoh lainnya, di antaranya jurnalis senior sekaligus sejarawan Hasril Chaniago, serta Dedi Yusmen yang merupakan alumni dan saat ini menjabat sebagai salah satu pimpinan di Pertamina.

Diskusi lintas generasi tersebut dipandu oleh moderator Martin Suhendri, yang berhasil mengarahkan jalannya dialog secara dinamis dan konstruktif.

Sementara itu, perwakilan panitia, Arief Rangkayo Mulia, menyampaikan harapan agar peringatan 170 tahun Kweekschool ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk meninjau kembali sejarah pendidikan Sumatera Barat secara lebih objektif.

Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama seluruh pihak dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan daerah secara berkelanjutan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update