Notification

×

Iklan

Pemerintah Cari Pengganti LPG, Impor Masih Tinggi

Rabu, 29 April 2026 | 08:18 WIB Last Updated 2026-04-29T01:18:00Z

Pekerja membongkar muat gas LPG 3 kilogram

Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah terus merancang berbagai strategi guna menekan ketergantungan terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) sekaligus memperkuat kemandirian energi di dalam negeri.

Salah satu upaya yang tengah difokuskan adalah mencari sumber energi pengganti LPG yang berasal dari potensi dalam negeri. Langkah ini dinilai penting mengingat tingginya konsumsi LPG nasional yang belum mampu diimbangi oleh produksi lokal.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kebutuhan LPG di Indonesia mencapai sekitar 8,6 juta ton setiap tahun. Namun, produksi dalam negeri baru mampu menyuplai sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton, sehingga sekitar 7 juta ton lainnya masih bergantung pada impor.

Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan konversi minyak tanah ke LPG pada masa lalu yang belum diikuti dengan peningkatan produksi domestik secara signifikan.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah saat ini tengah mengevaluasi berbagai alternatif energi yang dapat menggantikan LPG. Proses kajian dilakukan secara intensif untuk menemukan solusi yang paling tepat dan berkelanjutan.

Salah satu opsi yang sedang didorong adalah pemanfaatan Dimethyl Ether (DME) berbahan dasar batu bara berkalori rendah. Melalui proses hilirisasi, batu bara tersebut dapat diolah menjadi DME yang berfungsi sebagai pengganti LPG.

Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG). Berbeda dengan LPG, CNG berasal dari gas dengan kandungan C1 dan C2 yang ketersediaannya relatif lebih melimpah di Indonesia.

Meski begitu, pemanfaatan CNG memerlukan teknologi kompresi bertekanan tinggi, yakni sekitar 250 hingga 400 bar, agar dapat digunakan secara optimal oleh masyarakat.

Walaupun masih dalam tahap pembahasan dan pendalaman, CNG dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Sementara itu, terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), Bahlil juga menyampaikan bahwa kondisi pasokan nasional saat ini masih dalam keadaan aman.

Ia memastikan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika di sekitar Selat Hormuz, tidak memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas energi di Indonesia.

Menurutnya, pasokan BBM seperti solar dan bensin tetap berada di atas batas minimum nasional, meskipun dunia tengah menghadapi ketegangan geopolitik dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update