Pariaman, Rakyatterkini.com – Suasana di sepanjang Jalan Wolter Monginsidi, By Pass, Kota Pariaman, pada Kamis pagi (23/4/2026) terlihat jauh berbeda dari hari biasanya. Area di depan gerbang Universitas Sumatera Barat (Unisbar) yang umumnya sepi, mendadak berubah menjadi pusat keramaian layaknya pasar dadakan yang penuh warna.
Sejumlah pedagang UMKM tampak berjejer rapi di tepi jalan. Aroma roti bakar yang menggoda bercampur dengan berbagai dagangan seperti bingkai bunga (flower frame) yang ditata menarik secara visual. Di tengah ramainya keluarga mahasiswa yang datang dengan pakaian rapi, para pedagang kecil ini memanfaatkan momen tersebut untuk meraih pendapatan tambahan.
Bagi Ilham (49), seorang penjual roti keliling, keramaian di kawasan Unisbar sudah menjadi peluang yang selalu ia nantikan. Menurutnya, setiap ada kegiatan di kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi di wilayah Pariaman dan Padang Pariaman itu, berarti ada rezeki lebih yang bisa dibawa pulang.
“Alhamdulillah, kalau di sini sering ada acara. Dalam sebulan bisa sampai empat kali. Kalau ramai seperti ini, pendapatan jauh lebih baik dibanding hari biasa,” ungkap Ilham sambil melayani pembeli pada Kamis (23/4).
Hal serupa juga dirasakan Elmiati, warga sekitar yang memilih berjualan hanya pada momen-momen tertentu di lingkungan kampus. Ia tidak berdagang setiap hari, melainkan hanya ketika ada kegiatan besar di Unisbar. Elmiati bahkan rutin memantau informasi kegiatan kampus agar tidak melewatkan peluang berjualan.
“Saya hanya jualan kalau ada acara saja. Hasilnya lumayan untuk tambahan kebutuhan rumah,” katanya dengan penuh semangat.
Keramaian di luar area kampus tersebut ternyata berasal dari kegiatan resmi di dalam aula. Pada hari itu, Unisbar menggelar Upacara Pemasangan Uniform dan Pengucapan Janji bagi 245 mahasiswa Fakultas Kesehatan.
Rektor Unisbar, Dr. Nurtati, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tahap penting sebelum mahasiswa menjalani praktik di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Pihak kampus juga mengundang orang tua dan keluarga agar dapat menyaksikan langsung kesiapan para mahasiswa.
“Setiap mahasiswa biasanya membawa minimal dua anggota keluarga. Jadi wajar jika suasananya menjadi sangat ramai,” jelasnya.
Menurut Nurtati, kegiatan akademik seperti ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dalam satu bulan, kegiatan serupa bisa berlangsung hingga beberapa kali di kampus tersebut.
Fenomena di Jalan Wolter Monginsidi ini menunjukkan bagaimana sebuah institusi pendidikan dapat turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil. Kedatangan keluarga mahasiswa dari berbagai daerah tidak hanya menjadi momen penting bagi para calon tenaga kesehatan, tetapi juga membawa keuntungan bagi para pedagang UMKM di sekitar kampus.
Menjelang siang, keramaian mulai berangsur berkurang. Dagangan bunga satu per satu berpindah tangan, dan gerobak roti milik Ilham perlahan kosong. Di balik kesibukan dunia akademik, tersimpan kisah para pedagang kecil yang turut merasakan manfaat dari aktivitas kampus di jantung Kota Pariaman.(da*)


