Solok, Rakyatterkini.com — Sebuah jalan tanah sepanjang belasan kilometer di kawasan Tigo Jangko, Nagari Tanjung Balik Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berubah menjadi kubangan lumpur setiap kali hujan turun.
Kondisinya licin, menanjak, dan sangat sulit dilalui kendaraan. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan langkah para guru untuk tetap mengajar di SDN 12 Tigo Jangko.
Pada Jumat (24/4/2026), para pendidik kembali harus melewati jalur ekstrem tersebut demi sampai ke sekolah. Bagi mereka, medan berat bukan alasan untuk meninggalkan tugas mengajar, meski risiko keselamatan selalu mengiringi perjalanan.
Salah satu guru, Doni Eka Putra, mengungkapkan bahwa perjalanan dari rumahnya di Muara Panas, Kecamatan Bukit Sundi, ke sekolah bisa memakan waktu hingga enam jam.
“Dulu jalan ini beraspal, sekarang seperti tanah merah. Saat hujan, kendaraan sering terperosok. Tapi kami tetap berangkat karena siswa sudah menunggu,” ujarnya.
Akses menuju Tigo Jangko memang masih sangat terbatas. Sekitar 14 kilometer jalan harus ditempuh dalam kondisi berlumpur dan sulit dilewati. Para guru sering kali harus bergantian mendorong kendaraan atau berjalan kaki di beberapa titik yang tidak bisa dilalui motor.
Meski penuh tantangan, Doni bersama sembilan guru lainnya tetap bertahan mengajar di lokasi tersebut. Selain guru dari dalam wilayah, ada juga tujuh tenaga pendidik yang datang dari luar kawasan Tigo Jangko. Rutinitas ini mereka jalani hampir setiap hari dengan segala keterbatasan.
Di sekolah, kondisi serba terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Bangunan sederhana, fasilitas belajar yang minim, serta sarana pendukung yang belum memadai sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun hal itu tidak mengurangi semangat para guru dalam menjalankan tugas.
“Yang paling penting bagi kami adalah anak-anak tetap bisa belajar,” kata Doni.
Ia menambahkan, kondisi jalan ini sebenarnya sudah lama diketahui pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, namun hingga kini belum ada perbaikan berarti, terutama pada akses utama menuju sekolah.
Sementara itu, masyarakat setempat turut menyuarakan harapan agar pemerintah lebih memperhatikan wilayah terpencil tersebut. Tokoh pemuda setempat, Budiman, meminta adanya perhatian serius terhadap kondisi infrastruktur di daerah mereka.
“Jangan sampai masyarakat di daerah seperti Tigo Jangko merasa terabaikan. Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan dan fasilitas yang layak,” ujarnya.
Kisah para guru di Tigo Jangko menjadi potret nyata kesenjangan akses pendidikan di daerah terpencil. Di tengah keterbatasan yang ada, mereka tetap menjalankan tugas sebagai pengabdi pendidikan, meski jalan yang dilalui belum sepenuhnya mendukung perjuangan tersebut.(da*)


