Notification

×

Iklan

Ekskul Game Dinilai Bisa Kembangkan Skill Siswa

Rabu, 29 April 2026 | 02:18 WIB Last Updated 2026-04-29T00:36:03Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com– Maraknya game online yang kini semakin populer di Indonesia ikut memengaruhi pola perilaku dan kebiasaan anak, khususnya di kalangan pelajar. 

Meski sering dianggap berdampak negatif, game sebenarnya juga memiliki sisi positif, terutama jika didukung pengawasan dari orang tua, guru, serta pihak pemerintah.

Menurut Pakar IT Universitas Muhammadiyah Surabaya, Lukman Hakim, hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa game seperti Mobile Legends memang dapat memicu dampak negatif, seperti meningkatnya perilaku agresif, kecanduan bermain, hingga berkurangnya fokus terhadap kegiatan belajar.

Namun, dampak tersebut umumnya muncul ketika tidak ada pendampingan dan edukasi yang memadai dari lingkungan sekitar, baik keluarga maupun sekolah. Jika dikelola dengan baik, bahkan dijadikan kegiatan ekstrakurikuler resmi, game justru bisa menjadi sarana pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti kerja sama tim, penyusunan strategi, komunikasi, serta pengendalian emosi.

“Dalam ekosistem ekstrakurikuler yang terarah, siswa bisa belajar etika digital, pengaturan waktu layar yang sehat, serta keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab akademik,” ujar Lukman.

Ia juga menambahkan bahwa di beberapa negara, esports sudah diakui sebagai bidang kompetitif yang membuka peluang profesi masa depan, mulai dari atlet digital, pengembang game, caster, hingga analis industri game.

Lebih jauh, kegiatan ekstrakurikuler berbasis game dinilai dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir logis, konsentrasi, serta keterampilan numerik siswa. Hal ini juga selaras dengan perkembangan kurikulum yang mulai mengintegrasikan teknologi seperti kecerdasan buatan dan pemrograman.

Selain aspek akademik, ekskul game juga dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa yang memiliki minat di bidang tersebut. Lingkungan yang mendukung dapat membuat siswa merasa diterima, memperluas relasi sosial, serta membantu menjaga kesehatan mental mereka.

Saat ini, tercatat lebih dari 192 sekolah di Indonesia telah memiliki komunitas atau ekstrakurikuler esports. Di Sumatera Barat, sejumlah sekolah juga mulai mengembangkan kegiatan serupa, terutama dengan fokus pada game Mobile Legends, seperti di SMAN 7 Padang dan SMAN 11 Padang.

Di sisi lain, rencana pengembangan game online sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah muncul beriringan dengan kebijakan pemerintah pusat yang akan membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun mulai 28 Maret 2026. 

Kebijakan ini dinilai bertolak belakang dengan upaya sekolah dalam menyalurkan minat dan kreativitas siswa melalui game.

Meski demikian, pembatasan media sosial tersebut tetap dianggap sebagai langkah positif untuk melindungi anak dari dampak negatif konten digital yang beredar luas di internet.

Program ekstrakurikuler berbasis game ini masih perlu dikaji lebih lanjut, terutama terkait sejauh mana dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual siswa, serta peluang masa depan yang dapat dihasilkan dari kegiatan tersebut di lingkungan sekolah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update