Notification

×

Iklan

Dua Kasus Kekerasan Anak Gegerkan Limapuluh Kota

Minggu, 12 April 2026 | 03:32 WIB Last Updated 2026-04-11T20:32:00Z

ilustrasi

Limapuluh Kota, Rakyatterkini.com -  Di wilayah Limapuluh Kota, suasana pagi di Situjuah biasanya terasa damai dan berjalan seperti biasa. Warga masih saling bertegur sapa di jalan kampung, surau berdiri di berbagai sudut nagari, sementara rumah gadang tetap menjadi simbol kuatnya adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, ketenangan itu belakangan terusik oleh dua kasus kekerasan dalam rumah tangga yang mencuat ke publik dan mengguncang hati masyarakat setempat. Peristiwa tersebut tidak hanya mengejutkan warga, tetapi juga meninggalkan luka sosial yang cukup dalam, karena terjadi di lingkungan yang selama ini dianggap paling aman bagi anak, yaitu rumah sendiri.

Di Kecamatan Situjuah, aparat kepolisian mengungkap dua kasus yang melibatkan ayah kandung sebagai terduga pelaku kekerasan terhadap anaknya. Dalam penanganannya, satu pelaku telah diamankan untuk proses hukum lebih lanjut, sementara satu kasus lainnya berakhir tragis setelah pelaku ditemukan meninggal dunia usai sempat dinyatakan hilang selama beberapa hari.

Kasus pertama terungkap setelah seorang ibu menyadari kondisi anaknya yang membutuhkan pendampingan medis sekaligus psikologis. Dari temuan tersebut, pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian itu kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum.

Sementara itu, kasus kedua terungkap dari kecurigaan keluarga dekat korban. Mereka melihat adanya perubahan perilaku yang tidak biasa, di mana korban semakin sering menghindari rumah dan menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang tidak mudah dijelaskan. Setelah akhirnya korban berani bercerita, pihak keluarga langsung mengambil langkah hukum untuk melindungi korban.

Di tengah suasana duka tersebut, perhatian masyarakat juga tertuju pada kondisi psikologis para korban. Pendampingan dari keluarga, tenaga kesehatan, serta psikolog dinilai sangat penting agar para korban dapat melalui proses pemulihan dengan baik dan kembali menjalani kehidupan secara normal.

Anggota DPRD Limapuluh Kota, Benni Okva Della, turut menyampaikan rasa keprihatinannya atas peristiwa tersebut. Ia mengaku sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa para korban.

“Awak dampingi korban, baok ka psikolog,” ungkap Benni dalam pernyataannya pada Sabtu (11/4), yang menegaskan pentingnya pendampingan psikologis bagi para korban.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa dampak dari peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan proses hukum semata, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan yang mendalam.

Di tengah masyarakat nagari yang dikenal kuat memegang nilai adat dan agama, kejadian ini memunculkan keprihatinan luas sekaligus pertanyaan besar mengenai kondisi sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber trauma bagi sebagian korban. Hal ini menjadi bagian paling menyedihkan yang dirasakan banyak pihak.

Peristiwa di Situjuah ini juga menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak kerap terjadi secara tersembunyi di balik dinding rumah, tertutup oleh rasa takut, malu, serta ketimpangan relasi kuasa dalam keluarga.

Karena itu, masyarakat berharap kasus serupa tidak hanya berhenti sebagai pemberitaan sesaat, tetapi dapat menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan anak, serta menghidupkan kembali peran keluarga, ninik mamak, dan lembaga adat dalam menjaga generasi muda.

Sebab ketika kekerasan terjadi di lingkungan terdekat, dampaknya tidak hanya dirasakan korban secara langsung, tetapi juga menimbulkan kegelisahan bagi seluruh masyarakat nagari.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update