Jakarta, Rakyatterkini.com– Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjelaskan alasan di balik penunjukan Pakistan sebagai perantara dalam upaya perdamaian dengan Iran. Padahal, sejumlah negara lain yang juga memiliki hubungan baik dengan Teheran, seperti Turki, sempat menawarkan diri untuk menjadi fasilitator dialog.
Pemilihan Pakistan didasarkan pada penilaian bahwa negara tersebut lebih bersikap netral dan memiliki peluang lebih besar diterima oleh Iran dalam proses negosiasi. Selain itu, Pakistan diketahui memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Faktor kedekatan wilayah juga menjadi pertimbangan penting. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Iran, Pakistan dinilai lebih memahami situasi kawasan serta memiliki jalur komunikasi yang lebih efektif dibandingkan Turki.
Langkah ini merupakan bagian dari pendekatan diplomasi tertutup yang dijalankan oleh Presiden Donald Trump untuk mendorong tercapainya gencatan senjata. Meski kerap menyampaikan pernyataan tegas di hadapan publik, pemerintahannya disebut telah melakukan upaya di balik layar selama beberapa pekan guna meredakan konflik.
Laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa dorongan untuk menghentikan pertempuran selama dua pekan sebagian besar berasal dari Washington. Bahkan, Trump dikabarkan sudah menginginkan penghentian konflik sejak 21 Maret, meskipun di saat yang sama tetap melontarkan ancaman keras kepada Iran.
Keinginan tersebut muncul di tengah kekhawatiran akan kenaikan harga minyak global, terutama jika terjadi gangguan di Selat Hormuz. Selain itu, pejabat AS juga mengaku terkejut dengan kemampuan Iran bertahan dari serangan berulang yang dilancarkan oleh AS dan sekutunya.
Pengumuman gencatan senjata disampaikan Trump pada Rabu malam (7/4/2026), sekitar satu jam sebelum batas waktu rencana serangan terhadap fasilitas energi dan sipil Iran berakhir. Kondisi ini sempat menimbulkan spekulasi bahwa langkah tersebut hanya penundaan, bukan penghentian permanen.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran diminta untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas penghentian serangan selama dua pekan. Namun, laporan ini berbeda dengan pernyataan resmi Trump dan pejabat tinggi AS sebelumnya yang menyebut Iran meminta gencatan senjata dan mengklaimnya sebagai kemenangan tanpa syarat.(da*)


