Jakarta, Rakyatterkini.com — Di tengah kehidupan perantauan yang dinamis, masyarakat Minangkabau di Malaysia menemukan wadah untuk berkumpul, berdiskusi, dan menjaga identitas intelektual mereka melalui Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia (PCMM).
Organisasi ini lahir dari semangat menyatukan diaspora Minangkabau dengan basis akademik dan kebudayaan yang kuat.
PCMM dipimpin oleh Ismail Haji Ahmad, seorang tokoh Minang berusia 70 tahun yang lahir di Koto Tinggi Johor, Negeri Sembilan, namun memiliki akar keluarga di Payakumbuh, Sumatera Barat. Menurut Ismail, meskipun PCMM resmi berdiri pada 2015, gagasan dan pergerakan organisasi ini sudah dimulai sejak 2012.
“Tujuan utama PCMM adalah menyatukan seluruh perantau Minang di Malaysia, termasuk mereka yang baru tiba di sini. Sebelumnya, organisasi Minang bersifat kedaerahan, seperti Persatuan Minang Johor. Belum ada yang mencakup secara lebih luas,” ujar Ismail saat ditemui di sela pertemuan anggota PCMM di Bandar Ainsdale, Seremban, Negeri Sembilan, Kamis (6/3/2026).
Ismail menambahkan, pembentukan PCMM juga terkait regulasi di Malaysia, yang mengharuskan kelompok masyarakat memiliki badan organisasi resmi untuk bisa berkegiatan secara sah. “PCMM hadir sebagai wadah resmi yang memungkinkan orang Minang berkumpul, bersilaturahmi, dan berdiskusi tanpa kendala administratif,” katanya.
Syaftin Ruli, Wakil Ketua sekaligus Ketua Penerangan PCMM, menekankan pentingnya organisasi ini bagi perantau Minang baru. “Dengan PCMM, orang Minang bisa bersatu. Tanpa organisasi resmi, jika lebih dari lima orang berkumpul, biasanya perlu izin polisi. Sekarang kita bisa menampung semua saudara Minang yang datang dari mana pun,” ujarnya.
Sebelum PCMM berdiri, banyak pendatang Minang hanya menjadi anggota asosiasi tanpa status resmi. “Kita hanya ahli bersekutu, terdaftar sebagai anggota, tapi organisasi kita tidak diakui pemerintah. Karena itu, PCMM dibentuk,” tambah Syaftin.
Selain memperkuat silaturahmi, PCMM menjadi ruang pertukaran gagasan antara masyarakat Minang di Malaysia dan Indonesia. Diskusi mengenai adat, budaya, dan persoalan sosial menjadi bagian rutin kegiatan organisasi ini.
“Melalui PCMM, orang lokal dan perantau dari Indonesia bisa bertemu, bertukar pikiran, dan memberi kontribusi bagi masyarakat di kedua negara,” kata Ismail, yang telah tinggal di Malaysia sejak 1997 dan menyadari kedekatan budaya Minangkabau di kedua negara.
Kini, PCMM menjadi organisasi Minangkabau berskala nasional pertama di Malaysia, dengan sekitar 70 anggota, baik warga Malaysia maupun Indonesia. Populasi keturunan Minang di Malaysia diperkirakan mencapai satu juta orang.
Sebagai organisasi cendekiawan, PCMM memiliki Biro Akademik dan Intelektual yang diisi oleh dosen, peneliti, dan mahasiswa. Kegiatan akademik rutin seperti seminar, diskusi ilmiah, hingga sidang pleno pemikiran menjadi agenda tetap.
Sejak 2016, PCMM aktif menjembatani kerja sama akademik antara perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia, seperti UIN Syekh Jamil Jambek Bukittinggi dan Universiti Islam Selangor, dalam program pertukaran dosen dan mahasiswa. Hubungan akademik juga terjalin dengan Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Bung Hatta.
“Kita bukan partai politik. PCMM adalah think tank, tempat para pemikir Minang berkumpul dan berdiskusi,” tegas Ismail.
Ke depan, PCMM merencanakan agenda internasional, yakni Minang International Gathering setelah Idul Adha tahun ini. Rencana ini mencakup kegiatan akademik, seminar internasional, program keagamaan, dan pertemuan dai Minang dari berbagai negara.
Kegiatan ini juga akan menampilkan Baralek Gadang, pertemuan besar diaspora Minang dunia, yang dirancang sebagai forum diskusi sekaligus perayaan budaya, termasuk pameran, kuliner, budaya, dan booth wirausaha. Acara akan berlangsung di World Trade Centre Kuala Lumpur dengan dukungan Kementerian Agama Malaysia dan Kementerian Pelancongan Malaysia.
PCMM juga berencana mengadakan Minangkabau Gala Dinner yang akan menghadirkan tokoh Minang dari berbagai negara. “Kami ingin menghadirkan pemimpin Minang dunia, bahkan mengundang Perdana Menteri Malaysia,” kata Sekretaris Jenderal PCMM, Khalid Kamil.
Bagi perantau Minangkabau di Malaysia, PCMM lebih dari sekadar organisasi. Ia menjadi pusat pertemuan gagasan, penjaga identitas budaya, dan pengikat diaspora Minang dengan semangat intelektual di perantauan.(da*)


