Jakarta, Rakyatterkini.com – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyoroti tindakan sensor yang dilakukan rezim Israel terhadap laporan serangan balasan Iran, sambil menegaskan bahwa respons Teheran baru saja dimulai.
Dalam unggahan terbaru di akun X-nya, Araghchi menegaskan bahwa pemerintah Israel berupaya menutupi dampak serangan rudal Iran terhadap wilayah yang mereka duduki.
"Netanyahu tidak ingin dunia melihat bagaimana Angkatan Bersenjata Iran menanggapi agresi Israel," kata Araghchi, dikutip dari Press TV.
Ia menambahkan, "Berikut laporan dari pasukan kami: kerusakan total yang ditimbulkan oleh rudal kami, kepanikan pemimpin mereka, dan kekacauan di sistem pertahanan udara. Ini baru permulaan."
Insiden ini berakar dari serangan militer tanpa provokasi yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menurut klaim Teheran menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer tinggi. Iran merespons agresi tersebut dengan meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan militer AS di kawasan regional.
Meskipun Israel berusaha keras menyensor informasi, beberapa media berbahasa Ibrani terpaksa melaporkan adanya korban jiwa, menandakan serangan Iran memberikan dampak signifikan terhadap entitas yang dianggap ilegal oleh Teheran.
Selain itu, Araghchi menyoroti manipulasi pasar oleh pejabat Amerika Serikat melalui penyebaran berita palsu.
Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut tidak akan mampu mencegah dampak inflasi yang melanda rakyat AS. Menurutnya, kerugian pasar saat ini lebih besar dibanding krisis minyak Arab tahun 1973, Revolusi Islam Iran 1979, maupun invasi Irak ke Kuwait 1990.
Araghchi juga menegaskan bahwa klaim Iran berencana menyerang AS atau pasukannya, baik secara preemptif maupun preventif, adalah palsu. "Tujuan dari kebohongan ini hanya untuk membenarkan 'operasi kesalahan besar'—sebuah petualangan berbahaya yang dirancang Israel dan dibiayai oleh warga Amerika biasa," ujarnya.(da*)


