Notification

×

Iklan

Desmi Berjuang Sekolahkan Anak Pasca Longsor Padang Pariaman

Rabu, 11 Maret 2026 | 21:16 WIB Last Updated 2026-03-11T14:16:00Z

Kisah Desmi, Penyintas Bencana di Padang Pariaman Mencoba ‘Tegar’ Demi Pendidikan Anak

Jakarta, Rakyatterkini.com – Tragedi longsor yang terjadi pada November 2025 silam masih membekas dalam ingatan Desmi (50), warga Jorong Cubadak, Nagari Asam Pulau, Kecamatan 2X11 Kayutanam, Padang Pariaman. Saat itu, bukit yang hanya beberapa meter dari rumahnya tiba-tiba ambruk, menghantam tempat tinggalnya bersama dua anak remajanya.

Peristiwa itu datang di saat hidupnya tengah diliputi duka setelah lima tahun kehilangan suami tercinta. Rumah yang berdiri di atas tanah warisan keluarga, satu-satunya harta yang dimilikinya, kini tidak lagi layak huni. Zona tanah tersebut dinyatakan merah, sehingga tak bisa dibangun kembali karena rawan bencana.

Kini, Desmi tinggal di hunian sementara (huntara) di Asam Pulau. Meski berat, ia mencoba berdamai dengan keadaan. Kesedihan yang berlarut-larut bukanlah solusi; dua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD membutuhkan biaya pendidikan untuk masa depan mereka.

“Sedih pasti, tapi kalau saya hanya meratap, bagaimana anak-anak bisa sekolah?” ujar Desmi, Selasa (10/3), sambil menekuni pekerjaan serabutannya.

Bagi Desmi, menyekolahkan anak-anak hingga minimal tamat SMA adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi. Meskipun kemampuan finansialnya terbatas, ia tak pernah menyerah dan siap melakukan apa pun demi pendidikan anak-anaknya.

Di usianya yang memasuki setengah abad, Desmi menyadari tak lagi bisa mewariskan harta materi kepada anak-anaknya. Ia menaruh harapan agar pendidikan bisa menjadi jalan bagi kehidupan mereka yang lebih baik.

“Mungkin hidup saya sudah seperti ini, tapi saya berharap anak-anak bisa memiliki masa depan lebih baik,” ujarnya. Desmi merupakan salah satu dari 34 kepala keluarga yang menetap di huntara yang dibangun Polri.

Meski ruangnya hanya berukuran 4×6 meter, Desmi merasakan kehangatan dari tetangga yang juga penyintas bencana. Ia merasa tak sendiri karena ada banyak “saudara baru” yang saling memberi semangat dan dukungan untuk menjalani hari-hari ke depan.

Tinggal di huntara, menurut Desmi, adalah anugerah besar setelah tragedi memilukan di akhir 2025. Selain tempat tinggal, kebutuhan pokok hingga bantuan materi terus mengalir dari donatur.

“Alhamdulillah, di sini kami tidak kekurangan. Makanan dan kebutuhan sekolah anak selalu tersedia. Bahkan jika berlebih, kami berbagi dengan tetangga di rumah lama,” tuturnya.

Namun, Desmi menyadari kondisi ini bersifat sementara. Ia berharap pemerintah segera menyediakan hunian tetap (huntap) sekaligus dukungan modal usaha agar penyintas bisa mandiri.

“Saya ingin berdagang. Saat ini banyak yang kehilangan pekerjaan. Bantuan huntap dan modal usaha sangat kami harapkan,” ujar Desmi, yang pernah bekerja sebagai TKI di Malaysia pada 2016.

Kalaksa BPBD Kabupaten Padang Pariaman, Emri Nurman, menyebutkan saat ini terdapat dua huntara di daerah tersebut, yakni di Asam Pulau dan Batang Anai. “Di huntara Batang Anai ada 40 KK, sementara di Asam Pulau ada 34 KK,” jelasnya. Total terdapat lebih dari 560 KK penyintas yang membutuhkan hunian tetap.

Selain itu, kerusakan infrastruktur cukup luas. Sebanyak 54 jembatan, 29 ruas jalan, 69 unit irigasi, dan ribuan rumah mengalami kerusakan, dengan total kerugian sementara mencapai Rp967,8 miliar.

Pemerintah daerah telah melakukan mitigasi melalui Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dan mengajukan kebutuhan anggaran perbaikan infrastruktur sebesar Rp3,2 triliun kepada pemerintah pusat melalui BNPB. Untuk perbaikan pipa air bersih senilai Rp278 miliar, pelaksanaannya telah ditunjuk kepada perusahaan BUMN.

Terkait jembatan permanen yang hancur, Pemkab Padang Pariaman juga telah mengusulkan perbaikannya langsung kepada Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya saat kunjungan Wakil Menteri PU beberapa waktu lalu.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update