Notification

×

Iklan

AS dan Israel Serang Iran, Balasan Rudal Iran Membayangi Timur Tengah

Minggu, 01 Maret 2026 | 17:34 WIB Last Updated 2026-03-01T10:34:00Z

Kampus Universitas Andalas (Unand) di Limau Manis, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar).

Padang, Rakyatterkini.com — Serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Iran ke sejumlah target di Timur Tengah, memicu kekhawatiran luas terkait potensi meluasnya konflik regional dan dampak serius bagi stabilitas global.

Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas (Unand), Virtuous Setyaka, menilai peristiwa ini tidak sekadar operasi militer terbatas, melainkan bagian dari dinamika panjang persaingan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Berdasarkan laporan media internasional, serangan awal menargetkan fasilitas militer strategis Iran, termasuk kapasitas rudal, unit angkatan laut, serta pusat komando yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah Israel serta sejumlah lokasi yang terkait kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan.

"Eskalasi ini menegaskan bahwa konflik tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan rivalitas geopolitik, keamanan regional, dan kepentingan energi global," ujar Virtuous.

Virtuous menambahkan, ketegangan yang terjadi berpotensi memengaruhi stabilitas politik Timur Tengah, termasuk hubungan negara-negara Arab dengan Israel yang sebelumnya mengalami proses normalisasi melalui Perjanjian Abraham. Tekanan domestik di masing-masing negara kemungkinan meningkat, sementara kerja sama keamanan regional bisa menguat akibat persepsi ancaman bersama.

Ia juga mengingatkan publik akan risiko terburuk dari eskalasi ini: pecahnya perang multifront yang melibatkan banyak negara. Dampaknya bisa meliputi gangguan pasokan energi global, kesalahan perhitungan militer yang fatal, serta krisis kemanusiaan berskala besar.

Kawasan Timur Tengah dikenal sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia, salah satunya melalui Selat Hormuz. Gangguan sekecil apa pun dapat memicu lonjakan harga energi, kenaikan biaya logistik, dan ketidakstabilan pasar global.

"Energi dan keamanan di wilayah ini saling terkait. Setiap eskalasi militer hampir selalu berdampak pada gejolak ekonomi global," tegas Virtuous.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update