Pariaman, Rakyatterkini.com – Retaining wall atau dinding penahan tanah di sekitar Jembatan Pauh, Kota Pariaman, yang seharusnya diperbaiki melalui APBD 2026, kembali gagal dilakukan.
Kerusakan pada penyangga tebing yang sudah bertahun-tahun tak tersentuh itu kini semakin parah akibat erosi sungai dan banjir dengan arus deras.
Retaining wall yang berbentuk beronjong ini dibangun belasan tahun lalu. Namun, sebagian besar materialnya kini telah jatuh ke aliran sungai karena kawat beronjong yang mulai putus-putus. Kondisi ini meningkatkan risiko longsornya tebing di sekitarnya, karena daya tahan beronjong yang semakin melemah.
Selain itu, kawat beronjong yang rusak juga mulai ditumbuhi semak belukar, sehingga kerusakan semakin terlihat jelas dari jembatan Pauh.
Plt Kepala Dinas PUPR dan Pertanahan Kota Pariaman, Riko Jamal, menjelaskan Selasa (17/2/2026), perbaikan retaining wall sebenarnya sudah diusulkan dalam APBD tahun ini, tetapi tidak terealisasi.
"Perbaikan fisik tidak tercakup di APBD, sehingga kami mengusulkannya melalui Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Pusat. Saat ini tinggal menunggu hasilnya," ujarnya.
Riko menambahkan, pemeliharaan rutin memang dilakukan, namun hanya sebatas membersihkan rumput liar. Sementara perbaikan struktural belum bisa dilakukan karena keterbatasan anggaran. Menurutnya, kondisi retaining wall saat ini termasuk kategori rehabilitasi berat secara teknis.
“Mudah-mudahan usulan melalui R3P bisa disetujui, sehingga perbaikan bisa segera dilakukan,” kata Riko.(da*)


