Padang, Rakyatterkini.com – Komunitas Seni Nan Tumpah kembali menghadirkan program tahunan mereka, “Ke Rumah Nan Tumpah” (KRNT) #10, yang berlangsung pada 7–14 Februari 2026 di Ruang Temu Nan Tumpah, Korong Kasai, Padang Pariaman.
Sejak 2017, KRNT menjadi agenda rutin komunitas ini untuk membuka ruang dialog kreatif antara masyarakat setempat melalui seni. Pada gelaran kali ini, pameran bertajuk Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan menjadi sorotan utama.
Pameran ini menandai presentasi tunggal pertama kolektif Silotigo, yang terdiri dari Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil. Ketiganya memulai kolaborasi seni sejak program Kaba Rupa Galanggang Arang dan terus berlanjut hingga kini.
Kurator pameran, Mahatma Muhammad, menjelaskan, “Tema ini merespons kondisi ekologis di Sumatera Barat. Banjir tidak hanya dianggap sebagai ancaman material, tetapi juga sebagai catatan atas dampak alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pengerukan sungai, dan tata ruang yang tidak mempertimbangkan keseimbangan alam.”
Sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah berada di Perumahan Bumi Kasai Permai, Padang Pariaman, kawasan yang sejak awal dihuni pada 1998 sudah akrab dengan genangan air. Bagi warga, banjir bukan fenomena baru, melainkan bagian dari sejarah kolektif mereka.
Selama sebulan, Silotigo menjalani residensi di lokasi ini. Proses berkarya berlangsung di tengah kehidupan warga, menggunakan fasilitas terbatas, dan menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan. Material karya diambil dari sisa dan limbah sekitar, serta ditempatkan di dinding rumah dan gudang warga.
“Ketiganya hadir bukan sebagai pengajar atau pemberi solusi, melainkan sebagai tamu yang perlu membaca situasi sosial dan menyesuaikan diri dengan ritme warga,” tambah Mahatma. Ia menekankan bahwa krisis lingkungan muncul karena manusia sering memisahkan dan mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan hubungan hulu-hilir serta kearifan lokal.
Dukungan warga pun terasa nyata. Anton, Ketua RT 4, yang rumahnya menjadi salah satu lokasi mural, menyatakan, “Kami dan tokoh masyarakat mendukung kegiatan ini. Kehadiran seni di lingkungan ini diharapkan mempererat kekompakan dan kepedulian warga.”
Boy Nistil menambahkan, penggunaan material limbah adalah pilihan sadar untuk memberi nilai baru pada benda yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Sementara Imam Teguh Sy dan Olimsyaf Putra Asmara menyoroti pengalaman berinteraksi dengan warga sebagai bagian integral proses residensi, meski harus menyesuaikan diri dengan suhu yang cukup panas, 30–32°C setiap hari.
Pameran akan menampilkan karya individual dan kolaborasi ketiganya, termasuk live painting di kanvas besar selama tujuh hari. Silotigo juga merespons lagu Kelana dalam bentuk visual, yang diputar setiap hari selama proses berkarya.
Selain Silotigo, KRNT #10 menampilkan Zona (Ny)Aman Seni dari 56 anak peserta Kelana Akhir Pekan, yang mengikuti kelas seni selama semester kedua 2025–2026, termasuk seni rupa, musik, tari, teater, dan menulis kreatif. Hasil karya mereka akan dipamerkan, disertai pertunjukan dan peluncuran buku fiksi.
Rangkaian kegiatan lainnya meliputi pertunjukan Bandar Kertas Buram, Sanggar Museum Parang Sintuak, Komunitas Kiraiku Nan Jombang, Obe jo Gogo, dan Komunitas Laguna Nusantara, serta tur pameran, pelatihan kriya dari limbah, pemutaran film, dan live painting Silotigo.
Jadwal lengkap kegiatan:
7 Februari: Pembukaan KRNT #10, pertunjukan Sanggar Museum Parang Sintuak dan Bandar Kertas Buram, serta pembukaan tur pameran Silotigo.
8–12 Februari: Live painting Silotigo, tur pameran, pelatihan kriya, dan pemutaran film.
13 Februari: Live painting, pembukaan gelar karya Kelana, pertunjukan musik, tari anak, dan silek.
14 Februari: Live painting, pertunjukan Obe jo Gogo, kelas tari remaja & anak, pertunjukan Komunitas Laguna Nusantara, teater, serta penutupan KRNT #10.
KRNT #10 menghadirkan seni sebagai medium hidup berdampingan dengan masyarakat, membangun dialog, dan menumbuhkan kesadaran ekologis melalui kreativitas.(da*)


