Notification

×

Iklan

Iran Ungkap Terowongan Rudal Bawah Laut dengan Ratusan Rudal Jarak Jauh

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:34 WIB Last Updated 2026-02-01T05:34:00Z

Iran menunjukkan jaringan terowongan rudal bawah laut. Ini menjadi ancaman mengerikan bagi kapal-kapal perang AS di Selat Hormuz

Jakarta, Rakyatterkini.com– Iran mengungkap keberadaan jaringan terowongan rudal bawah laut yang diyakini menyimpan ratusan rudal jelajah jarak jauh. Fasilitas ini dianggap bisa menjadi ancaman serius bagi kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz jika Washington melancarkan aksi agresi.

Dalam tayangan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, memperlihatkan deretan rudal siap diluncurkan di dalam fasilitas kapal selam. 

Tangsiri menegaskan jaringan terowongan ini dirancang untuk menghadapi kapal-kapal AS yang beroperasi di Teluk dan Laut Oman.

Ia menjelaskan bahwa terowongan tersebut menyimpan ratusan rudal jelajah dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer. Rudal Qader 380 L buatan Angkatan Laut IRGC dilengkapi sistem panduan cerdas yang memungkinkan pelacakan dan penargetan yang presisi. “Kemampuan kami terus berkembang. Pasukan Iran siap menghadapi ancaman di mana pun dan dalam skala apa pun,” kata Tangsiri, dikutip dari The New Arab, Minggu (1/2/2026).

Pengungkapan ini muncul bersamaan dengan ancaman terbuka Angkatan Laut Iran untuk mengganggu jalur pengiriman di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar sepertiga dari perdagangan minyak global. Mohammad Akbarzadeh, wakil politik Angkatan Laut IRGC, menegaskan Iran menguasai wilayah tersebut secara penuh, baik di udara, permukaan, maupun bawah laut.

Akbarzadeh menyatakan Iran dapat memantau kapal yang melintasi selat menggunakan teknologi modern dan menerima informasi intelijen secara real-time. Ia menegaskan, Teheran tidak mencari perang, namun tetap siap menghadapi setiap ancaman. “Jika perang dipaksakan, respons kami akan lebih tegas dari sebelumnya,” ujarnya.

Media Iran yang dekat dengan IRGC juga menayangkan rekaman kapal induk AS USS Abraham Lincoln dan kapal perang lainnya, disertai pesan peringatan bagi AS. Hal ini mengingatkan pada penahanan 10 pelaut AS oleh Iran pada 2016.

Di sisi politik, pejabat Iran menegaskan keamanan Selat Hormuz berkaitan langsung dengan stabilitas regional. Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menekankan bahwa keamanan kawasan harus bersifat inklusif, bukan selektif. 

Ia menambahkan bahwa Teheran menempuh jalur perdamaian namun siap membela kepentingan nasional terhadap agresi asing.

Sementara itu, AS mengonfirmasi kedatangan USS Abraham Lincoln dan kapal perang pendamping ke kawasan tersebut, disertai pengerahan pesawat tempur tambahan. 

Presiden AS Donald Trump menyatakan armada lainnya menuju wilayah ini, sembari berharap Iran bersedia berdialog. Namun, Iran menolak negosiasi di bawah tekanan militer, dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut metode tersebut tidak efektif.

Di tengah ketegangan militer, upaya diplomatik juga terus dilakukan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi, sedangkan Ali Larijani melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Qatar. Mesir turut mendorong dialog untuk menurunkan ketegangan regional.

Kondisi ini terjadi di tengah penindakan protes domestik di Iran. Menurut HRANA, sebuah lembaga hak asasi yang berbasis di AS, lebih dari 6.200 orang tewas, sebagian besar demonstran, meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update