Notification

×

Iklan

Dua Meriam Tua di Lapangan Golf PT Semen Padang Jadi Saksi Sejarah

Rabu, 11 Februari 2026 | 05:17 WIB Last Updated 2026-02-10T22:17:00Z

Meriam peninggalan Jepang di Lapangan Golf PT Semen Padang. 

Padang, Rakyatterkini.com – Di tengah hijau lapangan golf PT Semen Padang, dua meriam tua berdiri tegak, meski tubuhnya telah berkarat. Mereka seperti menantang waktu, diam namun penuh makna.

Meriam-meriam ini sudah berada di lokasi tersebut selama puluhan tahun, bahkan sebelum Indonesia merdeka, tepatnya di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang. Kawasan yang kini dikenal sebagai pusat olahraga dan rekreasi dulunya merupakan tambang tanah liat PT Semen Padang seluas sekitar 50 hektare.

Seiring waktu, lanskap Indarung berubah total. Bukit dan lubang galian kini berganti ruang hijau yang sejuk, dihiasi pepohonan rindang dan rumah bagi beragam satwa. Elang ular bido sesekali melayang, cekakak sungai dan cekakak belukar bertengger di dahan, sementara burung madu sriganti beterbangan di antara bunga. Rusa totol yang didatangkan dari Istana Bogor berkeliaran tenang, dan ikan bilih, ikan endemik Danau Singkarak, masih hidup di aliran sungai sekitar lapangan.

Namun, bukan hanya keindahan alam yang menarik perhatian pengunjung. Dua meriam tua ini kerap menjadi titik favorit untuk berswafoto, termasuk bagi pasangan pengantin yang kadang tak menyadari bahwa mereka berada di hadapan saksi bisu Perang Dunia II.

Sumatera Barat menyimpan banyak peninggalan militer Jepang. Pada masa pendudukan 1942–1944, wilayah ini menjadi jalur strategis pertahanan pantai barat Sumatra, dengan bunker, gua perlindungan, rumah sakit militer, dan meriam dibangun di berbagai titik mulai dari Padang, Painan, hingga Pariaman.

Di Indonesia, ratusan meriam peninggalan Jepang masih tersebar, beberapa di benteng pantai, permukiman, pelabuhan, bahkan kebun. Banyak di antaranya tak tercatat secara resmi, tanpa prasasti maupun cerita lengkap—sama seperti dua meriam di Indarung.

Masing-masing meriam di Lapangan Golf Semen Padang panjangnya sekitar lima meter dengan diameter laras sekitar 60 sentimeter, dipasang sejajar dari timur ke barat sejauh 30 meter. Satu menghadap Bukit Batu Kapur PT Semen Padang, satunya lagi mengarah ke kawasan Pabrik Indarung VI. Arah bidikannya memunculkan spekulasi, apakah untuk pertahanan, latihan, atau sekadar posisi siaga.

Meski berkarat, beberapa kode masih terlihat jelas. Satu meriam bertuliskan “O.F. 3 INCH. 20 CWT. MK III” dengan angka 1916, menandakan produksi Perang Dunia I yang kemudian digunakan Jepang saat menduduki Hindia Belanda. Meriam lainnya hanya menyisakan kode samar “NᵒL/169”. Tanpa prasasti dan catatan resmi, misteri seolah sengaja ditinggalkan waktu.

Indarung pada Masa Pendudukan Jepang

Buku 100 Tahun PT Semen Padang mencatat bahwa Belanda jatuh lebih cepat di Sumatra dibanding Jawa. Pada Maret 1942, tentara Jepang bergerak dari Aceh dan Medan hingga Bukittinggi, mengambil alih pemerintahan militer Sumatera Barat. Awal April 1942, Kolonel Fujiyama tiba di Padang untuk serah terima kekuasaan dari Residen Belanda, lalu melanjutkan ke Indarung, lokasi pabrik semen cikal bakal PT Semen Padang.

Pabrik yang mereka temui sunyi. Produksi terhenti, karyawan menghilang akibat bombardir sebelumnya di Indarung dan Pelabuhan Teluk Bayur. Jepang memulai masa kelam: staf dan keluarga Belanda dikumpulkan dan diinternir, sementara serdadu KNIL dieksekusi di kawasan Gadut. Dengan bantuan karyawan Indonesia, terutama Doesoen Malin Kayo, Jepang menghidupkan kembali pabrik. Pada Agustus 1942, pabrik beroperasi kembali sebagai Asano Cement atau Pabrik Semen Indarung, dengan semua yang berbau Belanda dihapus. Semen diproduksi untuk kebutuhan perang, membangun benteng, jembatan, dan infrastruktur militer.

24 Agustus 1944, sekitar 40 pesawat Sekutu membombardir kawasan Indarung. Ratusan ton bom dijatuhkan, pabrik rusak parah, sedikitnya 19 buruh tewas, ratusan luka-luka. Jepang kemudian memaksa pembangunan lebih banyak benteng pertahanan, termasuk meriam penangkis serangan udara, termasuk dua meriam yang kini berdiri di lapangan golf.

Merawat Sejarah, Bukan Melupakan

Tokoh masyarakat Indarung, Dharmansyah Siroen, mengatakan dudukan beton meriam dibuat melalui kerja paksa masyarakat pribumi. “Sejak kawasan ini ditambang hingga menjadi lapangan golf, posisi meriam tidak pernah dipindahkan,” ujarnya.

PT Semen Padang memilih merawat peninggalan sejarah ini. “Kami memandang meriam sebagai bagian dari nilai sejarah yang patut dijaga,” kata Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan, Idris.

Kini, Lapangan Golf PT Semen Padang bukan sekadar ruang olahraga atau rekreasi. Ia menjadi lanskap hijau yang menyimpan ingatan perang, kerja paksa, dan perjalanan panjang industri semen. Dua meriam tua itu tetap berdiri—diam, berkarat, dan setia mengingatkan bahwa Indarung pernah menjadi bagian dari pusaran sejarah dunia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update