Padang, Rakyatterkini.com — Bank Indonesia memperkirakan inflasi di Sumatera Barat (Sumbar) pada 2025 sedikit lebih tinggi dibanding proyeksi awal, yang berada di kisaran 2,5 persen ± 1 persen.
Hingga November 2025, inflasi Sumbar tercatat sebesar 3,62 persen (year to date/ytd), dipengaruhi oleh dampak cuaca ekstrem yang terjadi sejak pertengahan tahun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, menjelaskan bahwa inflasi sempat terkendali hingga Juli 2025, namun mulai meningkat sejak Agustus seiring munculnya bencana akibat cuaca ekstrem.
“Tahun ini inflasi memang sedikit di atas perkiraan kami. Sampai November tercatat 3,62 persen, menunggu data resmi dari BPS,” ujar Madjid, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, cuaca ekstrem yang berlangsung hingga akhir tahun mengganggu sektor pangan, termasuk gagal panen di beberapa daerah dan meningkatnya biaya distribusi. Kondisi ini mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas utama.
“Awalnya harga beras naik, kemudian bawang merah dan cabai merah. Harga emas juga meningkat cukup signifikan,” jelasnya.
Menurut Madjid, harga emas mengalami kenaikan antara 15–20 persen, yang turut memengaruhi laju inflasi Sumbar sepanjang 2025.
Meski demikian, Bank Indonesia optimistis inflasi pada 2026 dapat lebih terkendali. Inflasi Sumbar tahun depan diproyeksikan berada pada kisaran target nasional, yakni 2,5 persen ± 1 persen.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar terus mendorong langkah pengendalian, termasuk penguatan ketahanan pangan, kelancaran distribusi, dan sinergi antarinstansi, guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.(da*)


