Notification

×

Iklan

Banjir Bandang Terjang Muaro Busuak, PLTMH Sempat Padam

Kamis, 15 Januari 2026 | 06:14 WIB Last Updated 2026-01-15T00:55:16Z

PLMTH di Jorong Muaro Busuak, Kabupaten Solok, Sumbar sebagai energi listrik swadaya warga

Solok, Rakyatterkini.com – “Gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh.” Pepatah Minangkabau itu sejak lama menjadi penanda alam bagi masyarakat. Awan gelap di hulu menandakan hujan akan turun, sementara awan tipis di langit menjadi isyarat cuaca cerah.

Di Jorong Muaro Busuak, Nagari Koto Hilalang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kearifan lokal tersebut kini terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali langit di arah hulu menghitam, aktivitas warga di sawah dan ladang perlahan terhenti. 

Para petani memilih pulang lebih cepat, menyandang cangkul dan meninggalkan lahan, menyusul hujan yang belakangan kerap turun dengan intensitas tinggi.

Curah hujan yang terus meningkat bahkan menyebabkan Sungai Batang Gawan Kaciak meluap hingga merendam permukiman warga. Kondisi tersebut diperparah oleh hujan ekstrem akibat siklon tropis yang melanda wilayah Sumatra dan memicu banjir bandang di sejumlah daerah di Sumatera Barat, termasuk Jorong Muaro Busuak, Kabupaten Solok.

Bencana tersebut meninggalkan dampak serius. Sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Salah satu infrastruktur vital yang terdampak adalah bendungan air yang berfungsi menggerakkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Jorong Muaro Busuak.

PLTMH merupakan sumber utama pasokan listrik bagi warga setempat. Selama sekitar 17 tahun terakhir, masyarakat Muaro Busuak telah menikmati kemandirian energi tanpa bergantung pada jaringan listrik PLN. Namun, banjir bandang menyebabkan PLTMH sempat berhenti beroperasi akibat rusaknya bendungan dan derasnya aliran air sungai.

“Pasir menumpuk di dalam pipa turbin, sementara batang kayu dan daun-daunan menutup bak penampung,” ujar Ivan, operator PLTMH Jorong Muaro Busuak.

Seiring meningkatnya curah hujan, Ivan bersama warga lainnya rutin berjaga di sekitar PLTMH untuk mengantisipasi luapan Sungai Batang Gawan Kaciak yang dapat mengganggu operasional pembangkit. Namun saat galodo melintas, derasnya arus sungai membuat warga tak mampu mendekati rumah turbin. Akibatnya, pasokan listrik dari PLTMH terhenti setelah diterjang banjir bandang.

Setelah kondisi mulai aman dan air sungai surut, Ivan bersama pengurus PLTMH serta warga bergotong royong membersihkan sisa material banjir berupa kayu dan lumpur di sekitar bak penampung. Warga juga segera membangun bendungan darurat agar aliran listrik bisa kembali dinikmati masyarakat.

Ivan memastikan mesin PLTMH tidak mengalami kerusakan serius. Setelah bagian dalam pipa turbin dibersihkan, pembangkit kembali dapat dioperasikan.

“Mesin sempat mati sekitar enam jam. Setelah pipa dibersihkan, listrik kembali menyala,” ujarnya.

Menjelang senja, rumah Emi, salah seorang warga Jorong Muaro Busuak, kembali diterangi cahaya lampu. Di beranda rumahnya, Emi bersama sang etek tampak sibuk mengumpulkan nasi basi untuk pakan ternak.

Cahaya lampu yang menerangi rumah Emi dan warga lainnya bukan berasal dari listrik negara, melainkan dari turbin PLTMH yang berdiri di aliran Sungai Batang Gawan Kaciak sejak 2009. 

Pembangkit listrik berbasis swadaya itu berada sekitar 1,5 kilometer dari Kantor Wali Nagari Koto Hilalang dan menjadi simbol kemandirian energi masyarakat Muaro Busuak.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update