Jakarta, Rakyatterkini.com – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kepadatan arus lalu lintas selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Upaya tersebut dilakukan melalui survei serta pengecekan langsung di berbagai titik krusial, termasuk kawasan penyeberangan Merak dan sejumlah ruas jalan tol utama.
Kepala Korlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, menjelaskan bahwa terdapat empat klaster prioritas yang menjadi fokus komunikasi dan pengamanan dalam menghadapi arus Nataru.
Keempat klaster tersebut meliputi jalan tol dan jalan arteri, penyeberangan serta pelabuhan, simpul-simpul transportasi dan kawasan wisata termasuk bandara, terminal, dan stasiun—serta lokasi-lokasi peribadatan.
“Empat klaster ini menjadi sasaran utama dalam upaya antisipasi kepadatan arus lalu lintas selama Nataru,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Selasa (23/12/2025).
Ia menambahkan, Korlantas Polri juga telah menyiapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas untuk menghadapi kemungkinan lonjakan kendaraan saat puncak arus liburan. Skema tersebut mencakup pengalihan arus, penerapan contraflow, sistem satu arah (one way), hingga penyekatan situasional yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Kami menyiapkan berbagai opsi penanganan arus puncak agar mobilitas masyarakat tetap berjalan lancar dan aman,” katanya.
Menurut Agus, sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kepadatan tinggi akan mendapat perhatian khusus, di antaranya kawasan Gadog, Cianjur, Nagreg, Bandung, wilayah Jawa Timur, Bali, hingga Medan. Pengamanan juga mencakup kesiapan rencana darurat untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
“Titik-titik rawan tersebut sudah kami petakan dan siapkan langkah antisipasi, termasuk emergency plan jika terjadi gangguan akibat kondisi cuaca,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menyebutkan bahwa apabila terjadi antrean panjang di pelabuhan akibat cuaca ekstrem, kendaraan akan dialihkan sementara ke area penyangga atau buffer zone yang telah disiapkan. Pengaturan arus akan dilakukan secara bertahap hingga situasi kembali normal.
“Jika terjadi kepadatan ekstrem, kendaraan akan diarahkan ke buffer zone, lalu arus diatur secara sistematis sampai kondisi kembali terkendali,” pungkasnya.(da*)


