Notification

×

Iklan

Dari Duka Mendalam, Agam Tak Sendiri, Bangkit Bersama di Tengah Bencana Hidrometeorologi

Selasa, 23 Desember 2025 | 10:35 WIB Last Updated 2025-12-23T03:35:00Z

Banjir bandang Agam, Sumatera Barat.

LUBUK BASUNG - Besarnya skala bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam sempat membuat pemerintah daerah gamang. Kerusakan terjadi dimana-mana, terutama di enam kecamatan terdampak parah, yakni Palembayan, Tanjung Mutiara, Tanjung Raya, Malalak, IV Koto, dan Palupuh

Jalan terputus, jembatan runtuh, rumah lenyap, dan ratusan nyawa menjadi korban.

Tapi kegamangan itu sekarang sudah sirna, sebab pemerintahan dan rakyat Agam yang terdampak parah akibat bencana Hidrometeorolgi tidak sendiri. 

Dalam menghadapi musibah itu Agam, didampingi oleh pemerintahan pusat melalui BNPB yang mengirim tiga orang Tim Pandampingan Penanggulan Bencana di bawah pimpinan Bambang. "Alhamdulillah Agam tak sendiri, kami didampingi terus menerus dan didanai oleh BNPB untuk tanggap darurat, Agam sekarang sudah melewati masa darurat itu," kata Benni Warlis, Bupati Agam.

Benni mengenang kembali peristiwa banjir dan langsor yang meluluh lantakkan Agam, hujan turun sepanjang hari, bencana 27 dan 28 Nopember. Beberapa hari setelah bencana itu Benni menyimpulkan ini bencana terberat yang ia saksikan dalam sejarah hidupnya.

"Ya Allah, berat sekali bencana ini, tak akan mampu rasanya Agam khususnya Sumbar umumnya mengatasinya dengan kekuatan sendiri," kata Benni Warlis.

Ditemui dikediamannya di Lubuk Basung Ahad pagi (21/12/2025) dengan baju batik warna coklat, Benni kelihatan lelah, namun tetap memperlihatkan semangatnya. "Tiap hari rapat, dengan internal di lingkungan Pemkab Agam, maupun dengan jajaran terkait dari provinsi dan pemerintahan pusat, kemudian ke lapangan juga.

Dilanda bencana ini Agam nyaris lumpuh, akses terputus baik fasilitas jalan provinsi terutama dari Lubuk Basung ke Bukittinggi, jalan jalan provinsi di kawasan Agam banyak putus, 28 jembatan rusak, lebih 500 rumah hilang dan 851 rumah hancur dan hilang, 657 rumah rusak berat dan ringan, bahkan sebanyak 192 jiwa melayang dan 72 lainnya hilang.

"Kesedihan dan duka belum hilang, namun secara bertahap Agam telah keluar dari krisis, tak ada lagi yang terisolir kecuali dua titik di Malalak, yang lain lain sudah terbuka semua,"  kata bupati.

Akibat timbunan dan longsor akses jalan di Palembayan, IV Koto, Malalak, Buayan Pabatuangan di Matur terputus, "Hampir seratus persen pulih, ini berkat bantuan BPBD, TNI Polri. Semua relawan dalam daerah dan yang datang dari luar daerah, selaku pimpinan Agam saya ucapkan terima kasih"  katanya.

Perkembangan dan kamajuan penanggulangan ini terus menerus dilaporkan ke provinsi dan pusat. "Koordinasi kita tak putus, pusat sangat serius membantu kita, pusat melalui BNPB mendanai. "Kita minta alat berat, dengan cepat 30 alat berat datang, dalam beberapa hari ini akan datang pula 30 jembatan beli, jembatan darurat siap pasang, setidaknya di awal Januari ini selesai semua",  katanya.

Selain bantuan pemerintah, baik provinsi maupun pusat, banyak sekali bantuan datang dari berbagai pihak apakah pribadi, kelompok dan organisasi. "Bantuan sembako, barang kebutuhan lainnya terus mengalir, sehingga kita memiliki banyak stok dan persediaan," katanya.

Tingginya rasalidaritas masyarakat kita Indonesia pada umumnya, membuat bupati terharu. "Ternyata dalam kesusahan ini kita tidak sendiri, sekarang kita punya banyak persediaan, kapan saja warga kita membutuhkan kita berikan,"  kata bupati.

Di samping rumah dinas bupati ada sebuah bangunan yang disebut Balairung. Balairung itu sebelum bencana berfungsi sebagai aula pertemuan, sekarang berubah menjadi gudang penyimpanan bantuan.

Barang barang yang disimpan di gedung itu mulai dari minuman, roti roti, sembako, palaian dan alat alat sekolah. "Setiap hari kita drop ke posko-posko nagari dan jorong yang membutuhkan. Ini Posko utama, di nagari terdampak ada Posko Nagari, kita drop ke posko itu, selanjutnya ke jorong atau rumah tangga korban," kata Kalak BPBD Rahmat Lasmono.

Di Salareh Aia, terdapat satu posko induk yang didirikan oleh wali nagari setempat Zulkifli dan Jondra Marjaya seorang anggota DPRD Agam.

Zulkifli dan Jondra menceritakan kisah tragis yang mereka alami, terutama ketika menggunakan perahu karet dan berenang menyelamatkan warga di Jorong Seberang. "Kami menyeberangi air dalam, pak wali terjebak lumpur setinggi dada, tak tidur semalam, paginya langsung badoncek, terkumpul Rp2,5 juta,  kami dirikan dapur umum," kata Jondra.

Bersama masyarakat, belum datang bantuan, selama 3 hari kami mengumpulkan 49 mayat bergelimpangan di sekitar Kayu Pasak Utara ini. "Itulah mayat-mayat yang kami kumpulkan di halaman masjid kami, yang viral itu," tambah wali Nagari Zulkifli.

Posko Dapur umum Kayu Pasak Utama Nagari Salareh Aia, Palembayan itu posko pusat nagari. Nagari Salareh Air belah oleh jalan raya kelas IV yang membentang sampai ke Palembayan tembus ke Lawang Matur

Ada sungai kecil yang tenang mengaliri sedikit air dari perbukitan yang menjadi bagian dataran tinggi ke Bukik Bulek di sebelah utara Danau Maninjau.

Kawasan perbukitan itu dulunya hutan rimba, sekarang di hutan rimba itu yang sudah tidak ada. Kegiatan perambahan hutan sepanjang Palembayan, Hutan Batu Kambiang dan sekitarnya sudah lamah terjadi, itu diketahui benar oleh penduduk Palembayan, Batu Kambing dan sekitarnya.

Jika sekarang sekarang terjadi banjir besar, tentulah sesuatu yang tidak mengherankan, walau ada pernyataan dari pihak BKSD,  Galodo Kayu Pasak Selareh Aia bukan karena deforestasi. Itu adalah kesimpulan prematur. Kita desak Pemkab Agam melakukan kajian penyebab galodo ini, sebagai bahan mitigasi. (M.Khudri)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update