Padang, Rakyatterkini.com – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah menyalurkan bantuan pangan untuk korban banjir di Sumatera Barat (Sumbar) secara cepat dan terukur, guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi.
“Melalui Kementerian Pertanian, pemerintah telah bergerak cepat memberikan dukungan pangan dan bantuan strategis untuk mempercepat pemulihan daerah,” ujar Amran saat membuka Kongres VII Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas (IKA Unand) secara daring, di Jakarta, Minggu (30/11/2025).
Dalam kegiatan yang berlangsung Sabtu (29/11/2025), Amran juga menyampaikan kepedulian mendalam terhadap masyarakat Sumbar yang tengah menghadapi bencana banjir dan tanah longsor.
Sebagai langkah konkret, Kementan bekerja sama dengan lembaga terkait memastikan distribusi bantuan pangan bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh berjalan lancar.
Rincian bantuan yang telah disalurkan pemerintah, antara lain:
Aceh: 10.614 ton beras dan 1.954 ton minyak goreng
Sumatera Utara: 16.894 ton beras dan 3.108 ton minyak goreng
Sumatera Barat: 6.795 ton beras dan 1.250 ton minyak goreng
Khusus untuk Sumatera Barat, Kementan menyiapkan cadangan beras 6.794 ton untuk dua bulan, 1.358 kiloliter minyak goreng, tambahan 358 ton beras, serta dukungan benih padi dan jagung untuk 10.000 hektare lahan pertanian.
“Tim kami sudah berada di lapangan untuk membantu saudara-saudara yang kesulitan. Kementan selalu siap bergerak cepat. Kesiapsiagaan pangan sangat penting, terutama menghadapi dinamika cuaca dan situasi lapangan,” ujar Amran.
Ia menambahkan bahwa cadangan pangan nasional dalam kondisi aman, sehingga pemerintah dapat segera menyalurkan stok bantuan ketika bencana terjadi. Distribusi bantuan dilakukan secara terpadu dengan dukungan Bapanas, Bulog, Satgas Pangan, TNI, dan pemerintah daerah. Amran juga memastikan akan turun langsung ke lokasi terdampak.
Sementara itu, Ketua IKA Universitas Andalas periode 2021–2025, Rustian, menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak, termasuk alumni perguruan tinggi, dalam menghadapi tingginya intensitas bencana di Indonesia.
“Jika melihat peta rawan bencana, hampir seluruh wilayah berwarna merah dan kuning. Kontribusi alumni Unand sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana,” ujar Rustian.
Rustian menambahkan, bencana di Indonesia terjadi hampir setiap hari, dengan catatan 15–20 kejadian nasional dan lebih dari 50 kejadian di tingkat daerah. Ia menegaskan, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pangan, dan jaringan alumni perguruan tinggi sangat penting agar pemulihan pasca-bencana dapat berlangsung cepat dan ketahanan pangan masyarakat tetap terjaga.(da*)


