Notification

×

Iklan

Padang Dikepung Banjir, Ribuan Rumah Warga dan Mobil Terendam

Kamis, 27 November 2025 | 09:52 WIB Last Updated 2025-11-27T02:52:29Z

Banjir hantam Perumahan Lumin Park, Lubuk Minturun, ratusan rumah dan puluhan mobil dihanyutkan air bah, Kamis (27/11/2025).

Padang, Rakyatterkini.com – Padang dikepung banjir. Ribuan rumah penduduk yang tersebar dari beberapa perumahan direndam air setinggi lutut hingga pinggang. 

Peristiwa ini diperparah lagi, setelah meluapnya sungai Batang Nago, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (27/11/2025) dinihari.

Dalam kejadian, kawasan Lambung Bukit, Pauh, Padang terisolasi, setelah kawasan itu direndam banjir. Dan pada Kamis dinihari, kawasan Perumahan Taruko Andesa Permai, Banda Gadang, Nanggalo, Padang yang direndam air.

Di sana, ribuan rumah terendam air hingga lutut orang dewasa. Sementara di jalan komplek air setinggi pinggang. Air semakin besar dan debitnya makin tinggi masuk ke rumah warga.

Warga tidak bisa berbuat banyak, sementara hujan semakin lebat, sehingga menambah debit air masuk ke rumah.

Di kawasan Maransi, Parak Jambu juga mengalami serupa. Air setinggi pinggang. Warga tidak bisa berbuat banyak, hanya butuh bantuan dari pemerintah.

Begitu juga di Kawasan Lumin Park, Padang, Di perumahan elit itu air bah melanda komplek seperti  batang sungai derasnya.

Peristiwa itu terjadi setelah meluapnya sungai Gunung Nago, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Jembatan yang menghubungkan Gunung Nago dengan Pauh, putus total.

Akibat kejadian, arus transportasi lumpuh. Tidak itu saja, akibat meluapnya air sungai, ribuan pemukiman perumahan penduduk terendam banjir. Lokasi terparah di Komplek Perumahan Taruko Andesa Permai, Gunung Panggilun, Padang.

Ribuan perumahan di sana, direndam air. Ketinggian air di dalam rumah mencapai setinggi lutut, dan di jalan setinggi pinggang orang dewasa. 

"Air masuk ke rumah, komplek sudah seperti laut, " ujar Made, pada rakyatterkin.com, Kamis (27/11/2025).

Warga tidak dapat berbuat banyak, air bercampur lumpur dengan cepat masuk ke rumah. Semua peralatan terendam.

Irigasi

Awalnya, proyek irigasi Gunung Nago, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sebagai salah satu tulang punggung pengairan sawah di wilayah tersebut. Proyek yang telah berdiri sejak tahun 1970 ini menjadi urat nadi bagi ribuan hektare lahan pertanian di kawasan Pauh, Kuranji, hingga Nanggalo.

Pada awal pembangunannya, Irigasi Gunung Nago memiliki luas layanan sekitar 2.087 hektare dengan dua pintu intake, yaitu pintu kiri dan kanan. Kedua pintu ini masing-masing mengairi sawah di wilayah Kecamatan Pauh–Kuranji dan Kecamatan Kuranji–Nanggalo. 

Sistem irigasi memanfaatkan aliran gravitasi dari Sungai Batang Kuranji, sehingga air dapat mengalir alami ke lahan pertanian tanpa pompa.

Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi jaringan irigasi mulai mengalami penurunan. Perubahan tata guna lahan, berkurangnya debit air sungai, serta meningkatnya kebutuhan air pertanian menjadi tantangan utama bagi keberlangsungan sistem ini.

Sebagai respons, pada tahun 2019, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengalokasikan dana APBD sebesar Rp1 miliar per tahun untuk rehabilitasi saluran primer dan sekunder serta pengembangan jaringan irigasi Gunung Nago. 

Program ini ditujukan untuk kembali mengairi sekitar 2.800 hektare sawah yang sebelumnya terancam kekeringan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan Kota Padang.

Selain pembangunan fisik, optimalisasi juga dilakukan melalui pendekatan ilmiah berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Dari hasil analisis, diketahui bahwa daerah aliran sungai (DAS) Gunung Nago memiliki luas sekitar 48,71 km², dengan area irigasi efektif sekitar 1.212,78 hektare, terdiri dari:

Pintu kiri: ± 725,73 ha. Pintu kanan: ± 487,05 ha

Data ini menjadi dasar dalam perencanaan dimensi saluran yang lebih efisien serta perhitungan kebutuhan debit air yang lebih akurat ke depan.

Tak hanya irigasi, perhatian masyarakat saat ini juga tertuju pada jembatan proyek Gunung Nago di Lambung Bukit, RT 01 RW 02, yang dikabarkan mengalami putus akibat kondisi alam dan faktor usia konstruksi. 

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat karena jembatan tersebut menjadi akses penting bagi masyarakat sekitar, terutama untuk aktivitas pertanian dan mobilitas harian.

Dengan berbagai upaya rehabilitasi dan perencanaan modern, Irigasi Gunung Nago diharapkan tetap menjadi andalan sektor pertanian Kota Padang, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung ketahanan pangan daerah. (*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update