Notification

×

Iklan

KNMP Dorong Swasembada Pangan dan Ekonomi Pesisir

Kamis, 13 November 2025 | 18:33 WIB Last Updated 2025-11-13T11:50:54Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Di tengah perhatian yang besar terhadap ketahanan dan swasembada pangan nasional, wilayah pesisir kerap luput dari sorotan. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada pangan melalui sumber daya perikanannya, atau yang dikenal sebagai pangan biru.

Kini, impian tersebut tengah diwujudkan melalui Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), sebuah program pembangunan di wilayah pesisir yang tidak hanya bertujuan menciptakan swasembada pangan, tetapi juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8% atau lebih.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyatakan optimisme bahwa KNMP akan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, pangan biru mencakup seluruh sumber pangan dari perairan, baik dari perikanan budidaya maupun tangkap, dari sungai hingga laut.

Indonesia, dengan garis pantai terpanjang di dunia, memiliki peluang besar untuk memanfaatkan potensi kelautannya. "Khusus di bidang pangan, kami bisa memberikan kontribusi signifikan di sektor protein," ujar Trenggono.

Keyakinan ini muncul setelah Trenggono meninjau beberapa negara pesisir yang berhasil membangun ekonomi melalui pengelolaan perikanan berkelanjutan, seperti Jepang, Norwegia, Denmark, Swedia, dan Australia.

Hasil kunjungan itu mendorong KKP membangun kampung nelayan modern di Desa Samber-Binyeri, Biak Numfor, Papua. Di sana, semua kebutuhan nelayan dipenuhi, mulai dari fasilitas produksi hingga pemasaran hasil tangkapan.

Fasilitas yang dibangun mencakup pabrik es, cold storage, stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBUN), shelter pendaratan ikan, bengkel, hingga kios perbekalan nelayan. Infrastruktur pendukung seperti tambatan perahu, jalan, IPAL, dan balai desa juga hadir. Selain itu, tersedia sentra kuliner, balai pelatihan, docking kapal, dan kantor koperasi untuk mendukung kesejahteraan nelayan secara menyeluruh.

Trenggono menekankan, ekosistem terintegrasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas nelayan. Hasilnya, dalam setahun, produktivitas nelayan di Biak naik hingga 100%. Hingga Juni 2025, total ikan yang dikirim ke Pulau Jawa mencapai 153,82 ton dengan nilai Rp 2,456 miliar.

Nelayan setempat, Ortisan Miokbun, menyebut kemudahan akses BBM, es, dan perlengkapan melaut di kampung nelayan membuat operasional lebih efisien.

Transformasi KNMP menghadirkan teknologi rantai dingin canggih untuk menjaga kualitas ikan lebih lama, termasuk slurry ice, campuran butiran es mikro dan air asin. Teknologi ini menggantikan es dari air tawar yang sebelumnya kurang efektif. KKP juga berencana membangun pabrik slurry ice di lokasi KNMP untuk mendukung ekspor dan meningkatkan nilai produk perikanan.

Kesuksesan KNMP di Biak menjadi model yang akan diterapkan di seluruh Indonesia. Trenggono menyebut, KKP menargetkan membangun hingga 100 KNMP dalam enam bulan ke depan, dengan total 4.100 kampung nelayan hingga 2029. Setiap tahun, akan dibangun sekitar 1.000 KNMP dari Sabang hingga Merauke.

Hasil tangkapan dari KNMP juga akan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara koperasi desa mendukung operasional nelayan. Pendanaan KNMP berasal dari kombinasi APBN dan Danantara, dengan anggaran untuk 100 KNMP pertama mencapai Rp 2,2 triliun, dan diproyeksikan menyerap 7.000 tenaga kerja selama pembangunan.

Trenggono optimistis, jika program ini diperluas ke seluruh desa pesisir, produktivitas perikanan nasional akan meningkat drastis dan mendekati kemampuan swasembada seperti yang dicapai China.

Upaya swasembada pangan protein di Indonesia menghadapi tantangan kompleks, termasuk kualitas konsumsi dan keberlanjutan sumber daya. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi protein hewani masih rendah dibanding kebutuhan ideal per kapita.

Ekonom Nailul Huda menekankan bahwa tekanan akibat overfishing, kenaikan biaya operasional, dan eksploitasi berlebihan menghambat sektor perikanan. Selain itu, kemiskinan masih tinggi di wilayah pesisir, dengan 3,9 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem.

KNMP hadir sebagai solusi jangka pendek untuk meningkatkan kualitas tangkapan dan produktivitas, namun keberlanjutan ekosistem, pendidikan, dan layanan dasar masyarakat pesisir juga perlu diperhatikan agar manfaatnya berkelanjutan.

"Dengan pembangunan yang berkelanjutan, nasib nelayan di masa depan juga akan terjamin," tutup Huda.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update