Notification

×

Iklan

Dari Kayu dan Kelapa, Yusril Raih Emas PON Beladiri 2025

Minggu, 19 Oktober 2025 | 23:45 WIB Last Updated 2025-10-20T01:14:21Z

Yusril Mahendra saat mewakili Sumbar di PON Beladiri 2025 di Kudus.

Padang, Rakyatterkini.com – Di sebuah kampung kecil bernama Kampung Baru, Kuranji Hulu, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, hidup seorang pemuda pekerja keras bernama Yusril Mahendra. 

Lahir di Tanjung Alai pada 27 Februari 2000, Yusril menjalani hidup sederhana dengan pekerjaan serabutan, mulai dari memotong kayu hingga mengupas kulit kelapa, apa saja yang penting halal.

Putra kedua dari tiga bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga yang menanamkan nilai kejujuran dan kerja keras. Ayahnya, Alimunir, dan ibunya, Ermawati, selalu mengingatkan agar tidak pernah malu bekerja, selama itu dilakukan dengan cara yang benar. Nilai itu menjadi prinsip hidup Yusril hingga kini.

Dari hasil jerih payahnya, ia menyisihkan sebagian untuk membantu keluarga dan sebagian lagi ditabung demi biaya latihan di dojo. Dari tempat latihan sederhana itu, Yusril belajar makna sejati perjuangan, disiplin, dan pengorbanan.

Perkenalannya dengan dunia bela diri dimulai dari judo, yang memberinya dasar teknik dan kedisiplinan. Setelah itu, ia menekuni kurash, seni bela diri asal Uzbekistan yang menuntut kekuatan, ketangkasan, dan kecepatan. 

Kedua cabang olahraga itu menjadi pondasi penting sebelum akhirnya ia menekuni sambo, bela diri asal Rusia yang memadukan unsur judo dan kurash.

“Dari judo saya belajar kesabaran, dari kurash saya belajar pegangan, dan di sambo semuanya menyatu,” ungkapnya.

Kerja keras dan dedikasi Yusril mencapai puncaknya pada PON Bela Diri II 2025 di Kudus, Jawa Tengah. Ia turun di kelas 53 kilogram (sport putra) mewakili Sumatera Barat. Di babak semifinal, Yusril berhasil menyingkirkan juara bertahan Husni Hairil, dan melangkah ke final menghadapi Abdillah Muhammad Devlin dari Kalimantan Timur.

Pertarungan berlangsung ketat dengan skor imbang 6–6. Namun, karena lawannya mendapat kartu kuning, kemenangan pun diberikan kepada Yusril. Medali emas itu menjadi persembahan pertama bagi Sumatera Barat di cabang olahraga sambo.

Bagi Yusril, medali emas tersebut bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan hasil dari perjuangan panjang seorang anak kampung yang tak pernah menyerah. Setiap kayu yang ia potong, setiap kulit kelapa yang ia kupas, adalah bagian dari perjalanan menuju podium kehormatan.

“Kalau saya bisa bantu keluarga dan tetap latihan, itu sudah cukup. Emas ini bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk mereka,” ujarnya dengan nada tenang.

Meski kini menyandang predikat atlet berprestasi, Yusril tetap hidup sederhana. Ia masih membantu keluarganya dan menabung demi masa depan adik-adiknya serta ayah tirinya.

Ia menyimpan mimpi besar: suatu hari nanti memiliki dojo sendiri di kampung halamannya, agar anak-anak di sana bisa menemukan jalan hidup yang lebih baik lewat olahraga. “Mimpi itu gratis,” katanya sambil tersenyum, “tapi perjuangan mahal. Saya sudah membayarnya dengan keringat.”

Di atas matras, Yusril adalah petarung tangguh. Di rumah, ia adalah tulang punggung keluarga. Dan di hati banyak orang, ia adalah bukti bahwa kemuliaan bisa lahir dari kerja keras  dari kampung, dari kayu, dari kelapa, dan dari niat yang tulus tanpa henti.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update