Notification

×

Iklan

Bendi, Simbol Kehormatan yang Mulai Terlupakan

Minggu, 26 Oktober 2025 | 16:45 WIB Last Updated 2025-10-26T09:45:00Z

Ilustrasi bendi

Padang, Rakyatterkini.com – Dulu, setiap pagi, irama derap kuda menghiasi jalanan pusat Kota Padang. “Tuk...tak...tuk...tak...” berpadu dengan teriakan para kusir yang menawarkan tumpangan kepada calon penumpang. Kini, suara khas itu nyaris lenyap, tersisa hanya dalam kenangan.

Bendi — atau kudo bendi dalam bahasa Minangkabau — merupakan salah satu moda transportasi tertua di Sumatera Barat. Lebih dari sekadar alat angkut, bendi adalah bagian dari sejarah sosial dan budaya masyarakat Minang.

Konon, nama “bendi” berasal dari Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur Belanda di masa kolonial Hindia Belanda yang merancang kendaraan roda dua berpenarik kuda untuk kalangan elite. Dari sana, bendi menyebar ke berbagai daerah, termasuk Minangkabau, dan menjadi simbol prestise serta kemakmuran.

Pada masa itu, hanya para saudagar kaya, penghulu, atau pejabat kolonial yang mampu menumpang bendi. Kursinya empuk, lengkap dengan tirai renda, dan dikemudikan oleh kusir berpeci hitam yang berpenampilan rapi. Naik bendi kala itu bukan sekadar bepergian, melainkan penanda status sosial.

Namun, perubahan zaman menggeser peran bendi. Memasuki era 1980-an, Kota Padang mulai padat oleh kendaraan bermotor — bemo, ojek, dan angkutan kota menggantikan posisi bendi di jalanan. Krisis moneter tahun 1998 semakin memperparah keadaan; banyak pemilik bendi terpaksa menjual kudanya demi menyambung hidup. Sejak itu, bendi lebih sering dikenang sebagai bagian dari masa lalu yang romantis.

Padahal, seperti pernah disampaikan oleh penulis Abdullah Rodolf Smit di Harian Haluan, bendi memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Pemerintah diharapkan dapat menghidupkan kembali transportasi tradisional ini, bukan hanya demi nostalgia, tetapi juga untuk membuka peluang ekonomi baru.

Menurut antropolog Universitas Andalas, Dr. Erniwati, bendi mencerminkan filosofi hidup orang Minang yang menyeimbangkan tradisi dan kehormatan. “Kuda bagi masyarakat Minang bukan sekadar hewan kerja, melainkan simbol kebanggaan dan kepemimpinan,” ujarnya.

Tak heran jika wisatawan asing kerap terpikat saat melihat bendi melintas di kawasan pasar atau kota lama. Beberapa daerah lain seperti Yogyakarta dan Cirebon bahkan telah menjadikan delman sebagai bagian resmi dari atraksi wisata, lengkap dengan regulasi, tarif, dan rute khusus.

Kini, keberadaan bendi di Sumatera Barat lebih sering dijumpai pada acara adat, festival budaya, atau kegiatan pariwisata. Meski jumlahnya semakin sedikit, nilai historis dan filosofisnya tetap hidup di hati masyarakat.

Tanpa bendi, generasi muda mungkin tak akan pernah merasakan pengalaman menaiki kendaraan tanpa mesin yang berjalan perlahan di tengah kota.

Kudo bendi mungkin bukan lagi primadona jalanan, tetapi derap langkah kudanya masih menyisakan keindahan tersendiri — pengingat bahwa kemajuan tidak seharusnya menghapus tradisi. Siapa tahu, dengan perhatian pemerintah dan kreativitas generasi muda, suatu hari nanti bendi bisa kembali melaju gagah — bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kebanggaan dan identitas sejati Kota Padang dan Sumatera Barat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update