Notification

×

Iklan

Trump Ultimatum Rusia, Harga Minyak Meroket

Selasa, 29 Juli 2025 | 11:34 WIB Last Updated 2025-07-29T04:34:00Z

Harga minyak mentah


Jakarta, Rakyatterkini.com – Harga minyak mentah global melonjak sekitar 2 persen pada Senin (28/7/2025), dipicu oleh tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang turut memicu sentimen positif di pasar.

Salah satu faktor pendukung kenaikan harga ini adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang secara tegas mempercepat tenggat waktu bagi Rusia untuk mengakhiri konflik bersenjata di Ukraina. Trump mengurangi tenggat dari 50 hari menjadi hanya 10 hingga 12 hari, dengan ancaman sanksi baru bila Rusia tidak mematuhinya.

Kontrak berjangka minyak Brent tercatat naik 2,3 persen menjadi USD70,04 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan 2,4 persen ke level USD66,71 per barel. Kenaikan ini menandai level tertinggi Brent dalam 10 hari terakhir.

Menurut analis pasar dari IG, Tony Sycamore, kombinasi kesepakatan dagang AS-Uni Eropa dan kemungkinan perpanjangan jeda tarif antara AS dan China memberikan angin segar bagi pasar keuangan global, termasuk sektor energi.

Dilansir Reuters, kesepakatan dagang yang diumumkan pada hari Minggu tersebut menetapkan tarif impor AS sebesar 15 persen untuk sebagian besar produk Uni Eropa. Sebagai bagian dari kesepakatan, UE juga menyatakan komitmennya untuk membeli energi dari AS senilai USD750 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

“Eropa akan mulai mengurangi ketergantungan energinya terhadap Rusia,” kata Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group. “Langkah ini jelas memberikan keuntungan besar bagi produsen energi AS sekaligus menambah tekanan diplomatik terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.”

Sementara itu, AS dan China juga sedang melakukan pembicaraan di Stockholm terkait kemungkinan memperpanjang gencatan tarif sebelum tenggat waktu pada 12 Agustus.

Analis dari PVM, Tamas Varga, menilai bahwa kesepakatan antara AS dan UE telah membantu meredakan ketidakpastian pasar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penguatan nilai dolar AS serta penurunan permintaan minyak dari India dapat menjadi faktor penekan bagi harga minyak dalam waktu dekat.

Dari sisi pasokan global, OPEC+—yang terdiri dari anggota OPEC dan negara mitranya seperti Rusia—menyatakan pentingnya kepatuhan terhadap kesepakatan produksi yang berlaku. Delapan negara anggota OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan pada Minggu mendatang untuk membahas kemungkinan penyesuaian produksi mulai September.

Lembaga riset ING memperkirakan bahwa OPEC+ akan merampungkan pengembalian pasokan sukarela tambahan sebesar 2,2 juta barel per hari paling lambat akhir September.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update