Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Minggu 24 Juli 2022 20:00 WIB


Positif Aktif Sembuh Meninggal
103.888 23 101.514 2.351
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Monumen Bedol Desa, Mengenang Pengorbanan Puluhan Ribuan Warga Wonogiri

Rabu, 18 Mei 2022 | 18:28 WIB Last Updated 2022-05-18T11:44:04Z

Monumen Bedol Desa di Waduk Gajah Mungkur  (foto/Sar/Rakyatterkini.com)
 

Wonogiri, Rakyatterkini.com - Keberadaan Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kabupaten Wonogiri, yang berlokasi 7 kilometer arah Selatan dari Kota Wonogiri, ternyata dalam pembangunannya menyimpan sejarah penuh keharuan. 


Pasalnya, pembangunan WGM itu sendiri seperti dikutip dari Wonogirikab.go.id membutuhkan waktu selama lima tahun. Terhitung sejak 1976 hingga 1981.


Luas genangan WGM lebih dari 8.800 hektare. Untuk membentuk genangan seluas itu, daerah yang harus ditenggelamkan sekitar 90 kilometer persegi. Terdiri atas 51 desa dan 7 kecamatan waktu itu.


Pengerjaan pembangunan WGM dilakukan secara swakelola dengan bantuan dari Nippon Koei Co.Ltd Jepang. Sedangkan total penduduk yang sebelumnya menempati desa tersebut, adalah 12.525 Kepala Keluarga (KK) atau 68.778 jiwa.


Lantaran ada pembangunan waduk dengan tujuan kemanusiaan itu, praktis penduduk dengan sukarela meninggalkan daerah asalnya, untuk menuju lokasi baru yang tersebar di berbagai daerah di pulau Sumatera. 


Lokasi tujuan para transmigrasi diantaranya Sitiung, Kabupaten Dharmasraya (Provinsi Sumbar), Jujuhan, Rimbo Bujang dan Alai Ilir, serta Peminang di Provinsi Jambi. 


Selanjutnya Air Lais, Sebelar, Ka tahun, Ipuh (Provinsi Bengkulu) dan Panggang, Baturaja (Provinsi Sumsel). 


Perpindahan penduduk dengan pola transmigrasi tadi disebut "Bedol Desa", lantaran semua penduduk tanpa terkecuali harus meninggalkan daerahnya. 


Atas jasa besar penduduk dalam berkorban itu, Pemerintah Kabupaten Wonogiri kemudian mendirikan sebuah monumen yang diberi nama Monumen Bedol Desa. 


Monumen ini terletak di sisi kanan intake (pintu air) WGM. Berupa bangunan dengan sejumlah patung dengan tinggi antara dua hingga tiga meter. 


Patung ini menggambarkan sebuah keluarga lengkap yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Keempatnya tampak menghadap ke arah barat laut dan melambaikan tangan ke belakang ke sisi waduk.


Monumen ini seakan melukiskan perpisahan dari desa asalnya untuk menuju ke tempat transmigrasi. Sedangkan pada bagian bawah monumen, terdapat relief yang menceritakan awal mula berdirinya waduk hingga pembangunan dan proses transmigrasi.


Seiring perkembangan zaman, keberadaan Monumen ini dimanfaatkan untuk ruang publik. Ada bangku permanen dibangun mengelilingi sebagai tempat duduk pengunjung. (Sar



IKLAN



×
Berita Terbaru Update