Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Minggu 24 Juli 2022 20:00 WIB


Positif Aktif Sembuh Meninggal
103.888 23 101.514 2.351
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Festival Pamalayu Jilid II akan Digelar

Kamis, 03 Maret 2022 | 07:02 WIB Last Updated 2022-04-20T00:06:59Z

Sutan Riska Tuanku Kerajaan.


Dharmasraya, Rakyatterkini.com - Sejarah tidak hanya menjadi bagian untuk mengkaji kisah di masa lalu, akan tetapi lebih dari itu, sejarah dapat dijadikan sebagai pelajaran, kebajikan, motivasi serta inspirasi masa kini dan di masa depan. 


Banyak peristiwa yang meski terjadi ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu masih relevan dinapaktilasi untuk diambil hikmahnya oleh gerenasi-generasi sesudahnya.


Salah satu sejarah yang masih memiliki kolerasi di masa kini adalah peristiwa yang dipelopori Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari pada tahun 1275–1286, untuk menyatukan Nusantara melalui sebuah ekspedisi. Oleh para sejarawan peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu. 


Hikmah yang paling urgen dari Ekspedisi Pamalayu tentu saja adalah unifikasi seluruh potensi yang ada di Nusantara terutama kekuatan kerajaan di pulau Jawa dan di pulau Sumatera (Malayu) untuk membendung ekspansi Kerajaan Mongol yang membabat habis seluruh daratan Asia bahkan Eropa saat itu. 

 

Argumentasi Ekspedisi Pamalayu bukanlah sebagai ekspansi dapat dibuktikan dengan Arca Amoghapasa, yang dikirimkan Singosari untuk ditempatkan di Dharmasraya yang saat itu berjaya sebagai kekuatan utama di Pulau Swarnabhumi sebagai tanda mata.


Inilah yang menjadi dasar Sutan Riska Tuanku Kerajaan, Bupati Dharmasraya, yang merupakan salah satu raja di Tanah Malayu Dharmasraya saat ini, bersama sejumlah pihak menggagas sebuah napaktilas peristiwa penting itu pada Agustus 2019 sampai Januari 2020 yang lalu.


Selain itu, pelaku usaha disektor pariwisata, seperti perhotelan, rumah makan dan restoran juga ikut ketiban rezeki. Dengan banyaknya kunjungan ke Dharmasraya, okupansi kamar Hotel saat momen tersebut selalu di atas 90 persen.  Rumah-rumah makan dan restoran juga selalu ramai. 


Luar biasanya, nilai transaksi terkait Festival Pamalayu ditaksir mencapai Rp20 Miliar. Padahal biaya kegiatan yang dialokasikan hanya sekitar Rp. 2 Miliar. Dan tentu saja nilai yang tidak terhingga adalah kemashuran Dharmasraya pada masa lalu dan perkembangan pesatnya masa kini telah menyebar ke seantero negeri.


Tahun 2022 ini, setelah pelaksanaan vaksinasi dirasa sudah dapat membentuk herd imunity, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mewacanakan akan menghadirkan kembali Festival Pamalayu edisi ke dua. 


Tak tanggung-tanggung iven kali ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Jika iven perdana hanya melibatkan Kabupaten Dharmasraya sebagai penyelenggara, maka tahun ini juga akan mengikutsertakan sejumlah kabupaten/kota sealiran Sungai Batanghari. 


Penglibatan daerah-daerah lain di aliran Batanghari didasari karena sungai tersebut menjadi pusaran peradaban tanah Melayu semasa itu. 


Peristiwa Ekspedisi Pamalayu juga tidak terlepas dari peran besar Batanghari sebagai urat nadinya Pulau Swarnabhumi. Banyak bukti sejarah peradaban masa lalu yang ditemukan disepanjang aliran Batanghari yang layak diangkat kembali pada momentum Festival Pamalayu jilid 2 ini.


Adapun daerah-daerah yang akan ambil bagian adalah Kota Jambi, Kabupaten Muara Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Pemerintah Provinsi Jambi. Kemudian, selain Dharmasraya sebagai pelopor, di Provinsi Sumatera Barat juga akan dilaksanakan sejumlah kegiatan pendukung di Kabupaten Tanah Datar.


Rangkaian acara Festival Pamalayu jilid 2 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Dharmasraya meliputi lidar (drone), Seminar Arkeologi Pulau Sawah dan Padang Roco, drama musikal, arung pamalayu, rangkaian aktivasi area Tanah Datar, dan ekspedisi. (rona)



IKLAN



×
Berita Terbaru Update