Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Selasa, 16 November 2021 20:00 WIB


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
89.819 124 87.543 2.152
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Konflik Jaksa & Pengacara, Ormas ALIBI Angkat Suara

Jumat, 01 Oktober 2021 | 18:09 WIB Last Updated 2021-10-01T11:09:26Z

Asep Syaefullah, Ketua Aliansi Ormas Peradaban Bumi Wisma Jati (ALIBI).


Indramayu, Rakyatterkini.com - Perseteruan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu dengan Toni, pengacara korban perkara pencabulan anak di bawah umur, menuai reaksi dari beberapa pihak.


Salah satunya, Asep Syaefullah, Ketua Aliansi Ormas Peradaban Bumi Wisma Jati (ALIBI) yang menyatakan akan mendukung penuh Toni.


Menurut Asep, dalam berkomunikasi dengan Aparat Penegak Hukum (APH), seorang pengacara dituntut untuk tegas dalam bersikap.


Kalau tidak tegas dalam bersikap, dikhawatirkan APH atau pejabat itu menyalahgunakan wewenang yang dimilikinya, kata Asep, saat diwawancara melalui telepon selular, Jumat 1 Oktober 2021.


"Jadi ketegasan yang dilakukan oleh beliau (Toni_red) menurut saya itu masih wajar. Waktu siaran langsung saya melihat semuanya. Maka dari itu, kami melihat banyak komentar miring, termasuk dari rekan- rekan Advokat, itu kami kupas tuntas."


"Kalau seandainya mereka dibelakang Jaksa Tisna, maka dipastikan, saya ada untuk membela Pak Toni dalam hal ini," tegas Asep.


Sementara ketika ditanya perihal tuntutan yang diberikan oleh JPU terhadap terdakwa perkara pencabulan anak di bawah umur tersebut, ia menganggap terlalu ringan. 


"Kami masih sangat menyayangkan, bahkan dibeberapa yurisprudensi bisa sampai 18 tahun vonisnya itu. Kalau Hakim melihat ini adalah satu perbuatan kejahatan yang nyata bagi perkembangan seorang anak, sepertinya Hakim menjatuhkan hukuman yang seberat- beratnya," ujarnya.


Menurut Asep, tuntutan hukuman 12 tahun oleh JPU terlalu enteng, karena perbuatan yang dilakukam terdakwa sudah merusak masa depan anak.


"Agar orang atau masyarakat yang melihat tidak berani melakukan perbuatan itu. Kalau 12 tahun itu enteng vonisnya. Jika bisa seumur hidup, karena sudah merusak masa depan anak- anak kita," tuturnya.


Asep bahkan mengaku akan turun dan meminta klarifikasi kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Indramayu jika pihak kejaksaan mengabaikan atau tidak memberi perhatian yang serius terhadap penanganan kasus pencabulan tersebut. (Slamet)




×
Berita Terbaru Update