Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Selasa, 14 September 2021 20:00 WIB


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
88.400 2.552 83.778 2.070
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Taliban Bakal Menerapkan Sistem Pemerintahan yang Inklusif

Senin, 23 Agustus 2021 | 08:01 WIB Last Updated 2021-08-23T01:01:34Z
Pejuang Taliban. (reuters)


Moskow, Rakyatterkini.com – Sejumlah pemimpin dunia mulai melakukan pembicaraan bilateral untuk membahas situasi di Afghanistan setelah Taliban berkuasa.


Pembicaraan itu, antara lain, dilakukan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui sambungan telepon, pada Sabtu 21 Agustus 2021. 


Menurut pernyataan Kantor Kepresidenan Rusia atau Kremlin, Putin dan Erdogan melakukan diskusi yang cukup mendalam terkait Afghanistan. "Mereka membahas pentingnya memastikan stabilitas dan perdamaian sipil di negara itu, kepatuhan yang ketat terhadap aturan hukum dan ketertiban,” kata Kremlin dalam sebuah pernyataan, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS, yang dilansir Republika.id, Ahad 22 Agustus 2021.


Putin dan Erdogan pun menekankan pentingnya untuk tetap memerangi terorisme dan perdagangan narkoba di Afghanistan. “Presiden Putin setuju memperkuat koordinasi bilateral dalam masalah Afghanistan.” 


Sementara itu, Erdogan berharap Taliban tak mengulangi kesalahannya di masa lalu saat memerintah Afghanistan pada 1996-2001. Dalam konteks ini, Erdogan menginginkan Taliban lebih inklusif. 


Direktorat Komunikasi Turki menyampaikan, Erdogan menekankan Turki menginginkan transisi yang mulus di Afghanistan. "Juga menekankan penting bagi Taliban tidak mengulangi kesalahan masa lalu, menjadi inklusif, mewakili keragaman rakyat Afghanistan, dan mengimplementasikan janji-janji mereka," kata Direktorat Komunikasi Turki dalam pernyataanya, seperti dikutip Anadolu Agency.


Erdogan mengungkapkan, untuk saat ini Turki menyambut baik pesan moderat yang telah disampaikan Taliban. Kendati demikian, Erdogan menekankan kata-kata atau janji yang telah dibuat perlu dibuktikan dengan tindakan. Sebab, hal itu bakal membantu proses yang akan datang.


Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden juga melakukan diskusi tentang Afghanistan dengan Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA), Mohamed bin Zayed Al Nahyan pada Sabtu. 


Menurut keterangan yang dirilis Gedung Putih, pada kesempatan itu Biden menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas dukungan UEA dalam proses evakuasi warga serta staf diplomatik AS dari Afghanistan.


Biden dan Al Nahyan menekankan upaya kolaboratif mencerminkan kemitraan abadi kedua negara. Biden pun membahas perkembangan situasi di Afghanistan dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. 


Biden mengucapkan terima kasih kepada Sanchez atas kepemimpinan Spanyol dalam menggalang dukungan internasional untuk perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.


Biden turut mengapresiasi kesediaan Spanyol menampung sementara warga Afghanistan yang berisiko di pangkalan militer di Rota dan Moron. Dari sana, para warga Afghanistan tersebut akan diproses menuju AS. 


AS telah mengimbau warganya yang masih berada di Afghanistan untuk tak bepergian ke bandara Kabul. Hal itu karena adanya potensi ancaman keamanan. Penasihat kedutaan AS meminta mereka menunggu instruksi individu dari perwakilan Pemerintah AS. 


Pejabat Komisi Kebudayaan Taliban, Abdul Qahar Balkhi, mengungkapkan, pembicaraan untuk membentuk pemerintahan baru Afghanistan terus dimatangkan. “Konsultasi sedang berlangsung tentu saja itu akan menjadi sistem yang inklusif tetapi saya tidak memiliki perincian siapa yang akan berada di pemerintahan dan siapa yang tidak akan berada di pemerintahan,” katanya saat diwawancara Aljazirah.


Ada pula pembicaraan tentang apakah ibu kota akan tetap berada di Kabul atau dipindahkan ke Kandahar, yakni tempat kelahiran Taliban. Balkhi turut mengomentari tentang kekacauan yang terjadi di bandara Kabul. Menurutnya, krisis di sana terjadi karena AS bergegas mengevakuasi ribuan orang dari negara tersebut.


“Saya pikir sangat disayangkan orang-orang bergegas ke bandara seperti saat ini. Kami telah mengumumkan amnesti umum untuk semua orang," katanya. 


Dia pun membantah laporan saat ini anggota Taliban sedang melakukan penggerebekan ke rumah-rumah tokoh pemerintah dan masyarakat sipil, kemudian mengintimidasi atau melecehkan mereka. Ia bahkan menyebut Taliban bakal menghukum anggotanya jika ada yang melakukan hal demikian. (*)




×
Berita Terbaru Update