Pemprov Sumbar Aktualisasikan ABS-SBK dalam Kehidupan Bermasyarakat -->

Pemprov Sumbar Aktualisasikan ABS-SBK dalam Kehidupan Bermasyarakat

Senin, 09 November 2020, 15:30



Padang, Rakyatterkini.com - Falsafah ABS-SBK harus diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dah berbangsa, apalagi di Sumatera Barat, sebab falsafah ini mengalami proses pematangan yang sangat panjang sebagai pedoman hidup.


Untuk pengalamannya, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, melalui Dinas Kebudayaan menerbitkan buku yang menyajikan pedoman bagaimana mengamalkan falsafah ABS-SBK dalam kehidupan sehari-hari.


Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Gemala Ranti, menuturkan buku itu terbit berkat upaya Gubernur Irwan Prayitno dalam mewujudkan visi dan misinya yang sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Pemprov Sumbar.


“Kita sudah berhasil merumuskan dan menghimpun menjadi sebuah buku, bagaimana masyarakat dapat mengamalkan ABS-SBK tersebut. Karena selama ini kebanggan orang Minang memiliki filosofi dasar dalam menjalankan Syariat Islam bersama nilai-nilai adat, "ujar Gemala Ranti.


Buku pedoman tersebut akan menjadi acuan dalam memberikan pemahanan ABS-SBK bagi generasi muda. Dengan itu, maka Pemprov Sumbar dapat bergerak lebih kongkrit untuk mengembangkan dan menyusun modul-modul yang lebih spesifik dan teknis, sehingga nilai ABS-SBK itu teraktualisasi dalam kehidupan bermasyarakat.


Dikatakannya, buku setebal (194) halaman tersebut dibuat dengan judul Pedoman Pengamalan Adaik Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah: Syara’ Balindung Adaik Bapaneh, Syara’ Mangato Adaik Mamakai. 


Ini bertuuan agar masyarakat dapat memahami adat dan syara’ adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, adat bagi masyarakat Minangkabau adalah pengamalan dari apa yang dikatakan oleh syara’.


Diakuinya, sebelumnya sudah banyak buku yang ditulis terkai ABS-SBK tersebut. Hanya dengan buku pedoman ini akan lebih lengkap. Disempurnakan, karena melibatkan orang-orang yang memiliki referensi yang lebik baik.


Gubernur Irwan Prayitno pada sambutannya dalam buku tersebut mengatakan, ABS-SBK adalah falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang tak mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Falsafah ini telah mengalami proses pematangan yang sangat panjang, sampai pada titik keyakinan bahwa adat dan syara’ adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.


Menurutnya, kehadiran pedoman pengamalan ABS-SBK merupakan langkah strategis besar dalam upaya mencapai misi tersebut. “Harapan kita adalah bahwa pedoman ini dilanjutkan dengan petunjuk teknis yang bersifat khusus,”ujarnya.


Secara umum, buku itu berisikan empat fase perkembangan adat Minangkabau. Yakni, fase adaik jo syara’ sanda manyanda kaduonyo, fase adaik basandi syara’-syara’ basandi kitabullah, fase adaik bapaneh, syara’ balinduang, dan fase syara’ mangato, adaik mamakai. (hms-sumbar)

TerPopuler