Penatalaksanaan Jenazah Pada Kondisi Wabah Covid-19 -->

Penatalaksanaan Jenazah Pada Kondisi Wabah Covid-19

Minggu, 12 April 2020, 21:00

Oleh: dr. Taufik Hidayat, M.Sc, Sp.F

Corona Virus Disease 19 (covid-19) telah menjadi pandemi atau wabah yang tidak hanya menimbulkan kesakitan tetapi juga menyebabkan kematian yang tidak sedikit diseluruh dunia.

Di Indonesia, jumlah kematian akibat Covid-19 terus meningkat, di Sumatera Barat sampai saat tulisan ini diturunkan sudah terdapat 4 kematian pasien yang disebabkan oleh infeksi virus corona.

Covid-19 merupakan penyakit yang penularannya melalui droplet (percikan cairan tubuh pada saat bersin dan batuk) serta  ketika seseorang menyentuh pasien atau permukaan benda-benda yang terduga dihinggapi oleh virus corona.

Di udara, virus corona dapat bertahan sampai 3 jam, sedangkan di bahan plastik, virus corona bisa bertahan 2-3 hari, pada kayu 4 hari, pada bahan besi 2-3 hari, bahan aluminium 2-8 jam dan pada kaca selama 4 hari.

Pada jenazah Covid-19, penularan ke orang hidup dapat terjadi melalui droplet yang keluar dari lubang tubuh ketika jenazah dipindahkan atau ketika kontak dengan cairan tubuh jenazah.

Pada saat terjadinya wabah Covid-19, dibutuhkan kewaspadaan kita bersama ketika  menemukan kasus kematian, baik dari pasien dengan pemantauan (PDP) dan konfirmasi positif Covid-19 maupun jenazah yang meninggal dengan sebab yang belum diketahui seperti pada keadaan sudden death (mati mendadak) maupun jenazah dengan penyakit lain namun dicurigai Covid-19.

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah menjelaskan upaya penanggulangan wabah, salah satunya adalah melalui penanganan jenazah akibat wabah. Lebih jauh dijelaskan bahwa kematian yang disebabkan oleh penyakit yang menimbulkan wabah atau jenazah tersebut merupakan sumber penyakit yang dapat menimbulkan wabah harus dilakukan secara khusus menurut jenis penyakitnya tanpa meninggalkan norma agama serta harkatnya sebagai manusia.

Penanganan jenazah Covid-19 telah diatur dalam pedoman yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO), Kementrian Kesehatan, Kementrian Agama, Pemda, Panduan yang dikeluarkan olehPerhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) bagi jenazah muslim.

Segera setelah seseorang dinyatakan meninggal dunia, akan terjadi perubahan pada tubuh jenazah. Secara umum perubahan dini yang dapat kita amati adalah berhentinya detak jantung, berhentinya pernafasan dan tubuh menjadi pucat dan lemas. Tiga puluh menit setelah mati akan muncul perubahan lanjut (tanda pasti mati) berupa lebam jenazah (livor mortis), sedangkan kaku jenazah (rigor mortis) akan terbentuk 2 jam setelah mati. Terjadi juga penurunan suhu tubuh jenazah (algor mortis).

Setelah 24 jam, pada perut kanan bagian bawah jenazah akan terlihat perubahan warna menjadi hijau kebiruan karena proses pembusukan (decomposition) dan jenazah mulai mengeluarkan aroma pembusukan.

Penanganan jenazah Covid-19 harus dilaksanakan dibawah 4 jam sejak waktu kematian dengan memperhatikan aspek etika dan kewaspadaan standar penanganan jenazah infeksius. Penanganan jenazah Covid-19 harus dilaksanakan di rumah sakit oleh petugas pemulasaraan.

Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan terkait penanganan jenazah Covid-19 oleh petugas pemulasara jenazah di rumah sakit adalah sebagai berikut:

Apakah yang dimaksud dengan pemulasaraan jenazah?
Pemulasaraan jenazah merupakan proses penyelenggaraan atau perawatan terhadap jenazah, termasuk proses memandikan/dekontaminasi, menyimpan maupun mengawetkan jenazah.

Mengapa jenazah Covid-19 harus diselenggarakan oleh petugas pemulasara jenazah di rumah sakit?
Untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit/Covid-19 dari jenazah. Selain itu, limbah cair dan padat dari jenazah dapat ditatalaksana agar tidak mencemari lingkungan.

Apa yang akan dilakukan dokter atau petugas pemulasara jenazah?
Dokter atau petugas pemulasara jenazah akan memberikan penjelasan kepada keluarga terkait penyelenggaraan jenazah. Jenazah muslim akan diselenggarakan secara Islam, mengikuti fatwa MUI penanganan jenazah ketika terjadinya wabah dan akan segera dibawa ke lokasi pemakaman dalam keadaan tersegel oleh petugas mobil jenazah.

Segel peti jenazah tidak boleh dibuka lagi, bagi keluarga yang ingin melihat jenazah untuk terakhir kali nya, diizinkan dalam jumlah terbatas sebelum jenazah tersegel dengan memakai alat pelindung diri (APD) lengkap.

Bagaimana dengan agama selain Islam?
Berbagai agama di Indonesia melalui kementrian agama sudah mengeluarkan panduan penyelenggaraan pelayanan jenazah dan pelayanan kedukaan terkait Covid-19.

Bagaimana cara penyelenggaraan jenazah Covid-19 di rumah sakit?
Secara umum, petugas pemulasara jenazah akan memakai APD lengkap yang terdiri dari pakaian/gaun sekali pakai lengan panjang dan kedap air, sarung tangan, pelindung wajah atau kacamata, masker bedah, celemek plastik/karet dan sepatu tertutup tahan air.

Jenazah kemudian didesinfeksi dengan larutan klorin atau formalin, dimandikan dan disucikan sesuai agama dan kepercayaan, dikafani atau diberi pakaian. Kemudian jenazah dimasukkan ke kantong plastik/kantong jenazah serta diikat rapat.

Jenazah dimasukkan ke dalam peti dan peti dibungkus plastik kembali. Pelayanan kedukaan atau shalat jenazah dapat dilakukan di rumah sakit atau masjid yang sudah didesinfeksi.

Bagaimana cara transportasi  dan pemakaman jenazah Covid-19?
Jenazah dibawa ke pemakaman oleh petugas mobil jenazah yang memakai alat pelindung diri (APD). Lokasi pemakaman sebaiknya berjarak setidak-tidaknya 50 meter dari sumber air tanah untuk minum dan 500 meter dari pemukiman terdekat.


Bolehkan melakukan pemeriksaan autopsi/bedah mayat terhadap jenazah Covid-19
Boleh, dokter forensik akan memakai APD lengkap. Semua lobang tubuh jenazah akan ditutup dengan bahan penutup yang diberi desinfektan.

Bagaimanakah dengan kematian wajar terkait kecurigaan Covid-19 yang terjadi di luar rumah sakit?

Jenazah akan diperiksa oleh petugas pemeriksa jenazah secara hati-hati melalui wawancara keluarga untuk penapisan. Jika kematian dicurigai akibat Covid-19, maka pemulasaraan jenazah dilakukan di rumah sakit sesuai prosedur.

Sebagai penutup, standar operasional prosedur penatalaksanaan jenazah terkait Covid-19 dapat berbeda antar daerah/rumah sakit, namun secara garis besar dalam pelayanan jenazah Covid-19 wajib memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan bersama baik dari pihak rumah sakit/petugas pemulasara jenazah, keluarga dan masyarakat banyak. Tentunya dengan tidak melupakan norma agama dan kepercayaan yang dianut oleh jenazah dan/atau keluarga. (*) 

Penulis adalah:
-Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
-Instalasi Pemulasaraan Jenazah Rumah Sakit Umum Pusat  dr. M. Djamil


TerPopuler