Imbas Corona, Pengunjung Umbul Ponggok Klaten Turun Hingga 70 Persen‎ -->

Imbas Corona, Pengunjung Umbul Ponggok Klaten Turun Hingga 70 Persen‎

Rabu, 18 Maret 2020, 12:29
Umbul Ponggok Klaten. (foto ist)

Klaten, Rakyatterkini - Merebaknya wabah COVID-19 atau virus corona berimbas terhadap objek wisata yang ada di Kabupaten Klaten, salah satunya seperti yang terjadi di Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo.

Kepala Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Junaedi Mulyono mengatakan, pengaruh virus corona sangat luar biasa.

"Meski ada pengunjung yang datang namun jumlahnya mengalami penurunan yang sangat drastis," kata Junaedi, Selasa (17/3) siang.

Menurutnya, pengelola objek wisata tidak bisa menolak kunjungan yang sudah melakukan pemesanan sejak jauh-jauh hari.

"Di musim penghujan saja, pengelola sudah harus menanggung biaya gaji karyawan
yang cukup tinggi. Dengan ditambah lagi kasus Corona ini kemungkinan untuk gaji karyawan kita sudah kewalahan," jelasnya.

Menurutnya, jika keadaan luar biasa (KLB) diperpanjang hingga 29 Mei mendatang tentu akan menambah beban perekonomian di desa.

Hal tersebut karena banyak warga yang menggantungkan kegiatannya di objek wisata ataupun UMKM yang ada di sini.

‎Menurut Kades Ponggok, terhadap pengunjung yang datang, pengelola telah menerapkan standar operasional yang sangat ketat.

"Kita menyediakan tes suhu badan dan semua yang masuk harus diasap menggunakan uap antiseptik termsuk juga kita sediakan untuk cuci tangan (hand sanitizer)," kata kades.

Ia menambahkan, pengelola tetap waspada terkait perkembangan dan akan tetap memantau terus. Bila keadaan semakin ke sini semakin urgent maka pengelola akan menutup objek Umbul Ponggok.

"Pengunjung Umbul Ponggok mengalami penurunan sampai di angka 70 persen. Dari yang tiap bulannya antara 20 sampai 25 ribu, mulai bulan ini kita mengalami penurunan drastis," jelasnya.

Menurut Junaedi, sejak isu Wuhan mengemuka,  jumlah pengunjung mengalami penurunan yang sangat drastis.

 "Di bulan Pebruari dan Maret kita mengalami drop sehingga pengelola menjadi kewalahan untuk membayar gaji karyawan. Dan kami terpaksa harus mencari dana talangan," pungkasnya. (cahyo)

TerPopuler