Waduuh! Penadah Peter Ternyata Mantan Anggota DPRD Kota Solok

Waduuh! Penadah Peter Ternyata Mantan Anggota DPRD Kota Solok

Kamis, 13 Februari 2020, 16:57
Penadah peter, AF merupakan mantan anggota DPRD Kota Solok. (foto ist)

Payakumbuh, Rakyatterkini - Satu dari 11 pelaku pencurian ternak yang ditangkap Satreskrim Polres Payakumbuh, Sumatera Barat, berinisial AF merupakan mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Solok periode 2009-2014.

Dalam sindikat itu, AF berperan sebagai pembeli ternak hasil jarahan, yang tentunya dengan harga yang lebih murah dari pasarannya.

Para pelaku yang sudah puluhan kali mencuri hewan ternak sejak 2016 dan sudah sangat meresahkan masyarakat itu, berhasil diamankan tim di beberapa tempat yang berbeda. Tidak hanya di dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat, bahkan ada yang diburu tim hingga ke Riau dan Pulau Jawa.

Kapolres Payakumbuh, AKBP Dony Setiawan, menururkan lima orang diantaranya ditangkap di Kota Solok, dua ditangkap di Pekanbaru, satu di Bandung dan tiga orang di Tasikmalaya.

Identitas masing-masing pelaku yang tergabung dalam sindikat ini adalah, IH (26), NHS (17), DAS (18) dan RF (30) merupakan warga Simalanggang, Limapuluh Kota.

AK (50) warga Kota Solok, HC (39), Bengkalis Riau, M. NA (38) Bengkalis Riau, MF (20), YP (21), JM (18 tahun) warga Simalanggang Limapuluh Kota, dan EP (24) warga Payakumbuh Barat.

”Kesebelas pelaku tersebut melakukan aksinya sudah sejak 2016 dan baru sekarang terungkap. Dan kita telah mengamankan 11 tersangka dengan 9 orang berperan sebagai pencuri dan penyedia angkutan serta dua lainnya berperan sebagai penadah”, jelasnya.

Dijelaskan, modus pelaku dalam melakukan aksinya secara bersama-sama dengan peran masing-masing. Ada yang menyediakan kendaraan dan ada juga yang mencuri hewan ternak hidup-hidup, ada yang bertugas menyembelih hewan hasil jarahan di tempat kejadian, untuk kemudian diangkut dengan mobil pick up bak terbuka.

Dipaparkannya, berdasarkan keterangan tersangka RF yang merupakan pimpinan sindikat, mengakui perbuatannya melakukan pencurian tersebut karena faktor ekonomi.

Dia melakukan pencurian ini dari Duri menuju Payakumbuh, sebelumnya dihubungi teman-teman di Payakumbuh, lalu setelah dapat gambaran target hewan ternak dari teman-teman, baru berangkat. Ia melakukan pencurian ini karena faktor ekonomi”, ungkap Dony menjelaskan keterangan tersangka.

Dari 2016 mereka telah melakukan pencurian sebanyak 30 TKP dengan rincian di Kota Payakumbuh (15 TKP) dengan hasil curian 19 ekor sapi/kerbau. Kabupaten 50 Kota (9 TKP) dengan hasil curian 10 ekor. Tanah Datar (2 TKP) dengan 2 ekor ternak, Bukittinggi (4 TKP) dengan pencurian 4 ekor. Lalu sapi/kerbau ini ada yang dijual di Solok, Tanah Datar dan ke Pekanbaru.

Komplotan tersebut menjual hasil curiannya berkisar Rp10-13 juta yang masih hidup dan yang dipotong langsung dilokasi Rp8 juta/ekor.

Sasaran sapi yang diincar oleh sindikat pencurian ini adalah sapi yang telah diikat hidungnya dengan alasan sapi tersebut lebih gampang untuk dicuri dan tidak akan menimbulkan bunyi yang membuat heboh.

Sementara, Kasat Reskrim AKP lham Indarmawan menuturkan para pelaku biasanya beraksi pada tengah malam sampai subuh. Dalam melakukan aksi tersebut biasanya waktu yang digunakan para pelaku adalah pada tengah malam kebanyakan yaitu dari jam 12 malam ke atas sampai dengan adzan subuh, tutur Kasat Reskrim.

Penangkapan pertama dilakukan di Kota Solok pada 24 Januari 2020. "Setelah dilakukan pengembangan kemudian kami berhasil mengamankan dua tersangka di Duri pada 2 Februari. Dikembangkan lagi dengan mambagi tim, jajaran mengamankan satu tersangka di Bandung dan tiga tersangka di Tasikmalaya, pada 5 Februari.

Pengungkapan kasus sindikat pencurian hewan ternak ini merupakan hasil dari penyelidikan di lapangan serta informasi dari masyarakat dan selanjutnya Sat Reskrim mengumpulkan bukti yang cukup untuk melakukan upaya paksa penangkapan.

Barang bukti yang disita dari kasus ini yaitu pisau daging, kapak, cangkul, handphone, tali arung, kunci mobil serta uang Rp8 juta yang merupakan sisa dari hasil penjualan sapi di TKP Akabiluru.

Atas kasus pencurian ini para pelaku pencurian dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman selama 7 tahun penjara, sedangkan untuk penadahnya dijerat Pasal 480 KUHP ancaman hukuman 4 tahun penjara.

Kapolres mengimbau masyarakat untuk lebih memperkuat sistem keamanan di kandang hewan ternak masing-masing dengan menambahkan kunci, menambahkan penerangan di kandang, tidak menempatkan ternak di luar kandang pada malam hari sehingga para pelaku kejahatan tidak gampang untuk melakukan pencurian.

"Kami harapkan masayarakat dan peternak untuk lebih waspada dengan cara memperhatikan keamanan hewan ternaknya, serta jangan sampai membeli ternak tanpa dilengkapi dokumen atau surat kesehatan hewan dari instansi terkait," ujar Dony mengakhiri. (rdo)

TerPopuler