Ferizal Ridwan: 'Kita Mesti Bangga Atas Perjuangan PDRI' -->

Ferizal Ridwan: 'Kita Mesti Bangga Atas Perjuangan PDRI'

Jumat, 10 Januari 2020, 18:02
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan memperingati gugurnya sembilan syuhada. (foto ist)

Limapuluh Kota, Rakyatterkini - Upacara peringatan gugurnya sembilan syuhada dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dalam rangkaian sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Kenagarian Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, berlangsung khidmat, Jumat (10/1).

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, karena setiap tahun pada 10 Januari selalu rutin melakukan peringatan gugurnya sembilan syuhada dalam mengenang peristiwa pertempuran di Titian Dalam.

Bahkan, berkat semangat pantang menyerah serta pengorbanan tanpa pamrih para syuhada ini, telah berhasil mewariskan Negera Kesatuan Republik Indonesia, yang sampai saat ini masih berdiri kokoh.

"Alhamdulillah, berkat perjuangan PDRI bangsa kita masih eksis sampai sekarang. Ini merupakan momentum mengingat kembali perjuangan para syuhada pada peristiwa bersejarah bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota," ucapnya.

Untuk itu, dirinya mengajak masyarakat untuk bangga serta ikut menyuarakan peristiwa penyelematan bangsa yang pernah terjadi di Sumatra Barat khususnya di Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, yang dikenal sebagai basis PDRI, serta perjuangan Tan Malaka yang disebut sebagai bapak republik.

"Ini adalah proposal besar kita untuk kita ajukan ke pemerintah pusat, sebagai kompensasi atas jasa dan perjuangan PDRI sebagai penyelamat bangsa," imbuhnya.

Namun di samping itu, Wabup Ferizal Ridwan sangat bersyukur, atas dilanjutkan kembali pembangunan Monumen Nasional PDRI oleh pemerintah pusat dalam hal ini kementerian Pendidikan RI.

Wabup menjelaskan pada saat dirinya diangkat menjadi Pj. Bupati selama 42 hari, dia berkesempatan untuk menyurati sembilan kementerian terkait untuk segera melanjutkan pembangunan monas PDRI menjadi Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Negara Lembaga (RKA-KL) kementerian, bukan hanya menjadi tugas perbantuan.

"Alhamdulillah diakhir 2019 kemaren, Monas PDRI telah dibangun kembali Rp32,3 miliar dikucurkan untuk pembangunan. Untuk itu, kesadaran kokektif mesti harus kita tingkatkan di Kabupaten Limapuluh Kota untuk kemajuan daerah yang lebih baik," tukasnya.

Ia mengajak pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk dapat menggali setiap potensi yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota sebagai bagian dari menjaga tradisi, menegakkan syarak dan mambangkikk batang tarandam, untuk kebaikan daerah, ketimbang mencari sisi negatif dari sebuah perjuangan.

"Jangan sampai kehilangan objektivitas walau terhadap orang yang tidak disukai. Untuk itu mari sama-sama kita komunikasikan, ketimbang mengadu domba," tegasnya.

Wabup Ferizal Ridwan minta kepada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Limapuluh Kota untuk mengusulkan penghargaan kepada pahlawan Nasional Tan Malaka, karena selain sosok Tan Malaka yang merupakan seorang guru bangsa, Tan Malaka juga pernah tercatat memiliki profesi sebagai seorang guru.

Di samping itu, dia juga menyerukan khususnya tentang PDRI dan Tan Malaka, untuk menghentikan segala perdebatan, pandangan negatif dan pendapat yang mengurangi semangat serta penghargaan pada para penjuang.

"Ini semua sengaja diciutkan oleh pihak lain dan hampir 50 tahun dibusukan. Maka kita sebagai anak nagari dan pewaris jangan mau terjebak dengan hal seperti itu," tukasnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Pandam Gadang, Rusli Said Dt Rajo Imbang ketika menyampaikan lintas sejarah peristiwa gugurnya sembilan syuhada pejuang PDRI di Titian Dalam berharap agar di lokasi makam ini dibangun patung para syuhada yang gugur dalam peristiwa Titian Dalam, yang menujuk ke Jembatan Titian Dalam. Di samping itu juga dibuat prasasti yang bertuliskan nama-nama dan gambaran perjuangan para syuhada.

Dikatakannya, kesembilan syuhada itu, merupakan orang yang berperan sangat penting dalam keberlangsungan republik ini. Kalau mereka tidak membuat gangguan terhadap pasukan Belanda yang akan melakukan penyerbuan ke pusat PDRI di Koto Tinggi, barangkali para pemimpin PDRI akan tertangkap oleh para penjajah saat itu.

Dengan adanya patung tersebut, lanjut Rusli, ia berharap generasi muda akan lebih mengenal para pejuang PDRI di Titian Dalam yang telah mengorbankan nyawanya bagi negeri ini. Selain itu, dengan adanya patung, orang juga akan lebih mengenal nagari Pandam Gadang sebagai negeri yang berkontribusi dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia tempo dulu.

Dipaparkan, para syuhada yang gugur di Titian Dalam itu adalah Syarif MP, Engku Kayo Zakaria, Dirin, Nuin, Radian, Manus, Nyik Ali, Abas dan Mak Dirin. Para pejuang itu gugur, karena dihujani Belanda dengan tembakan ketika berusaha merusak jembatan Titian Dalam, agar pasukan Belanda tidak bisa masuk ke Koto Tinggi tempat para pimpinan PDRI.

"Meski hanya bersenjatakan kampak, namun salah seorang pejuang itu, Syarif MP, berhasil membunuh seorang tentara Belanda dengan kampaknya," tambah Rusli Said Dt Rajo Imbang.(rel/rdo)

TerPopuler