Bunuh Soleimani, Militer AS Diminta Angkat Kaki dari Irak

Bunuh Soleimani, Militer AS Diminta Angkat Kaki dari Irak

Selasa, 07 Januari 2020, 08:16
Warga Iran trun ke jalan. (foto afp)

RAKYATTERKINI - Usai Komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, dibunuh Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak. Iran pun meradang. Militer AS pun diminta untuk segera angkat kaki dari Irak.

Soleimani tewas setelah kendaraan yang ditumpanginya terkena serangan drone militer AS di luar kompleks Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari lalu. Total 10 orang tewas akibat serangan AS yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump.

Seperti dilansir AFP, Senin (6/1/2020), Parlemen Irak menuntut agar ribuan tentara AS segera diusir dari wilayah mereka. Tuntutan ini disampaikan setelah serangan drone AS itu turut menewaskan tokoh militer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.

Dilansir detikcom, Perdana Menteri (PM) Irak, Adel Abdul Mahdi, menghadiri rapat luar biasa di parlemen yang membahas serangan AS yang menewaskan Soleimani. Dalam rapat itu, PM Abdul Mahdi mengecam serangan AS sebagai 'pembunuhan politik'.

PM Abdul Mahdi bergabung bersama 168 anggota parlemen Irak membahas pengusiran tentara-tentara AS. Jumlah tersebut memenuhi kuorum untuk pengambilan keputusan dalam parlemen Irak yang total beranggotakan 329 orang.

Sekitar 5.200 tentara AS saat ini ditugaskan di berbagai pangkalan militer Irak untuk mendukung tentara-tentara lokal dalam mencegah bangkitnya kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ribuan tentara AS itu dikerahkan sebagai bagian dari koalisi internasional yang lebih luas, yang diundang oleh pemerintah Irak pada tahun 2014 untuk membantu memerangi ISIS.

Dalam voting terbaru yang digelar Minggu (5/1) waktu setempat, mayoritas anggota parlemen Irak sepakat mendukung resolusi yang meminta pemerintah Irak untuk mengakhiri kesepakatan yang mendasari pengerahan tentara AS ke Irak.

Resolusi itu didukung oleh mayoritas anggota parlemen dari Syiah, yang mendominasi parlemen Irak. Banyak anggota parlemen dari Sunni dan Kurdi yang tidak hadir dalam voting tersebut, yang jelas dipicu oleh ketidaksepakatan mereka terhadap resolusi itu.

"Parlemen telah memilih untuk mendorong pemerintah Irak membatalkan permintaan kepada koalisi internasional untuk membantu memerang IS (nama lain ISIS)," tegas Ketua Parlemen Irak, Mohammed Halbusi, dalam pernyataannya. (*)

TerPopuler