Bertahan Hidup di Zona Bencana

Bertahan Hidup di Zona Bencana

Jumat, 22 November 2019, 22:56
Kegiatan BPBD di pesisir pantai Pessel. (foto ist)

Rakyatterkini (Pesisir Selatan) - Bagi masyarakat Batang Kapas, khususnya di Kenagarian Ampek Koto Hilie, bencana sepertinya sudah akrab di kehidupan mereka sehari-hari.

Sepanjang semester kedua 2019, yaitu dari rentang Juni hingga November, telah terjadi sejumlah musibah, seperti abrasi pantai, kebakaran dan limpahan air bah.

"Kami sudah akrab dengan bencana alam, semua bencana alam kami rasakan, hanya gunung meletus saja yang tidak kami rasakan karena memang tak ada gunung di sini," ungkap Wali Nagari setempat, Satria Darma, Jumat (22/11).

Bukan tanpa sebab dirinya berbicara demikian. Wilayah Pesisir Selatan, khususnya di Batang Kapas merupakan daerah yang dilewati garis pantai. Jika sudah tiba angin dari arah selatan, maka masyarakat dipastikan sudah waspada akan bencana yang menghadang.

"Angin selatan mengakibatkan pasang naik gelombang, dan itu membuat abrasi yang berdampak bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai," ujarnya.

Terkait dengan banjir bandang akibat limpahan air bah, sudah terjadi sebanyak lebih kurang dua kali sejak dirinya menjabat sebagai Wali Nagari.

Kejadian banjir bandang itu dari data yang berhasil dihimpun terjadi pada 2017 dan 2019. Pada 2017, Batang Jalamu meluap, hingga merendam sejumlah rumah warga yang ada di Kenagarian Ampek Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas. Ketinggian air saat itu diperkirakan setinggi pinggang orang dewasa.

Satria Darma mengatakan, luapan Batang Jalamu yang merendam perkampungan warga saat itu, adalah yang terparah dari sebelumnya. Sebab, hujan beberapa jam saja, debit air sudah meningkat hingga menelantarkan ratusan rumah penduduk. Tak hanya itu, sejumlah ternak warga, sawah, dan ladang ikut terseret terbawa air.

"Laporan sementara, tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, sejumlah ternak, sawah, dan ladang warga ikut terseret air, khususnya pada daerah Kampung Ladang dan Kapalo Banda," jelasnya.

Pada 2019, tepatnya pada bulan Juni, kejadian yang sama juga terjadi, meski tak separah dua tahun sebelumnya. Banjir Bandang setidaknya merendam 770 hektar lahan sawah, akibatnya dua kali gagal panen.

"Masih di November 2019, kami juga mendapatkan musibah kebakaran di Pasar Batang Kapas yang menghanguskan setidaknya 32 petak kios pasar," tambahnya.

Kenagarian Koto Hilia merupakan daerah terluas di Kabupaten Pesisir Selatan. Memiliki enam kampung, Jalamu, Bukit Tambun Tulang, Teluk Betung, Limau Sundai, Koto Tuo dan Pasar Kuok.

Kampung Jalamu, jumlah penduduknya 2.871 jiwa dengan rincian 1.934 laki-laki, perempuan 937 orang.

Bukit Tambun Tulang, 3.569 jiwa dengan rincian 1.815 laki-laki dan 1.754 perempuan. Teluk Betung, 1.522 jiwa, 853 laki-laki dan 669 perempuan.

Limau Sundai, 2.537 jiwa, Koto Tuo 1.684 jiwa (850 pria dan 834 wanita)  dan Pasar Kuok 1.499 jiwa (797 laki-laki dan 702 perempuan). (mdl)

TerPopuler